Pendapatan Truk Pasir Ambruk, Antre Solar Dua Jam di Lumajang

Pendapatan Truk Pasir Ambruk, Antre Solar Dua Jam di Lumajang
Pendapatan Truk Pasir Ambruk, Antre Solar Dua Jam di Lumajang

Pasuruan Terkini – Kabupaten Lumajang kembali digegerkan dengan masalah antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) jenis Bio Solar di sejumlah SPBU. Fenomena ini tak hanya menyulitkan masyarakat umum, melainkan juga menghancurkan penghasilan para sopir truk pengangkut pasir. Dengan Antre Solar Dua Jam Sopir Truk Pasir Lumajang Kehilangan Pendapatan Rp300 Ribu Sehari menjadi realita yang dirasakan setiap hari.

Antrean BBM bersubsidi di Kabupaten Lumajang sepanjang beberapa hari terakhir memang membuat geram banyak pihak. Sopir truk pengangkut pasir, salah satu profesi yang paling terdampak, harus rela mengantre selama dua jam untuk bisa mengisi tangki kendaraannya.

Joni, seorang sopir truk asal Desa Pasirian, Kecamatan Pasirian, menceritakan pengalamannya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia tiba di SPBU Sukodono sejak pukul 12.00 WIB, namun baru bisa mengantre giliran pengisian hingga pukul 14.10 WIB. Waktu yang begitu lama tanpa kepastian jelas membuatnya frustasi.

Dampak antrean panjang ini sangat terasa bagi aktivitas bisnis mereka. Biasanya, Joni bisa melakukan dua kali pengiriman pasir dalam sehari dari tambang menuju lokasi penampungan atau stockpile. Namun dengan kondisi antrean yang terjadi saat ini, jumlah pengiriman terpaksa turun menjadi hanya satu kali saja.

Kerugian finansial pun tak terelakkan. Joni mengungkapkan bahwa pendapatan yang biasa diperoleh dari dua kali angkut pasir berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari. Jika hanya bisa melakukan satu kali pengangkutan saja, maka pemasukan harian langsung berkurang drastis.

Sopir truk ini juga mengungkap bahwa pengirimannya sebagian besar ditujukan ke luar daerah, khususnya ke Kabupaten Probolinggo. Dengan sering telatnya pengiriman, hubungan kerjasama dengan pembeli di daerah tujuan pun ikut terganggu. Sudah sekitar dua pekan masalah ini berlangsung dan menjadi beban berat yang terus-menerus dirasakan.

Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati menyatakan bahwa pemerintah daerah telah berkomunikasi dengan pihak Pertamina terkait masalah antrean di berbagai SPBU. Dari informasi yang didapat, pasokan BBM ke Lumajang ternyata tidak mengalami penurunan volume.

“Begitu memasok langsung habis, begitu datang langsung habis. Jadi belum normal lah,” kata Indah menjelaskan situasi yang sedang dihadapi.

Di sisi lain, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan bahwa timnya sedang melakukan pemeriksaan langsung ke sejumlah SPBU di Lumajang. Mereka bertujuan untuk memastikan kondisi stok BBM secara akurat di lapangan.

“Tim masih di lapangan untuk melakukan pengecekan, nanti perkembangan informasinya akan kami sampaikan,” ujar Ahad menandaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *