Pasuruan Terkini – Kabupaten Lumajang kembali menjadi sorotan publik usai Pertamina Patra Niaga resmi mengakui bahwa pengiriman BBM ke sejumlah SPBU mengalami keterlambatan. Pengiriman BBM berlangsung terlambat dalam kurun waktu tujuh hari terakhir, memicu antrean panjang dan kekhawatiran masyarakat yang bergantung pada pasokan bahan bakar minyak.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengungkapkan bahwa kenaikan konsumsi BBM menjadi faktor utama di balik terjadinya gangguan distribusi ini. Konsumsi Pertalite melonjak tajam seiring meningkatnya mobilitas warga, sementara permintaan terhadap Biosolar juga meningkat signifikan akibat aktivitas pertanian, khususnya pada masa panen tebu yang sedang berlangsung.
Peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite serta dari Pertamina Dex ke Biosolar turut memperburuk kondisi. Hal ini menyebabkan tekanan lebih besar pada BBM bersubsidi yang jumlahnya terbatas. Pertamina mengonfirmasi bahwa penjualan BBM bersubsidi naik mencapai 11 hingga 15 persen dibandingkan kondisi normal sebelumnya.
| BBM | Trend Permintaan | Penyebab Kenaikan |
|---|---|---|
| Pertalite | Meningkat | Kenaikan mobilitas masyarakat |
| Biosolar | Meningkat | Aktivitas pertanian musim panen tebu |
| Pertamax | Mengalami peralihan | Konsumen beralih ke Pertalite |
| Pertamina Dex | Mengalami peralihan | Konsumen beralih ke Biosolar |
Sesuai dengan pengakuan tersebut, penyesuaian jadwal pengiriman memang dilakukan dalam tujuh hari terakhir. Akibatnya, kedatangan mobil tangki ke sejumlah SPBU di Lumajang tidak sesuai rencana. Keterlambatan ini menjadi penyebab utama munculnya antrian panjang di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum di wilayah tersebut.
Merespons kondisi tersebut, Pertamina segera berkoordinasi dengan Integrated Terminal Surabaya untuk memprioritaskan pengiriman BBM ke SPBU di Lumajang. Langkah lainnya meliputi koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang dan pihak terkait demi mendukung kelancaran distribusi serta pengaturan lalu lintas di area SPBU yang padat antrean. Armada mobil tangki juga dioptimalkan melalui mekanisme spot charter guna memperkuat kapasitas distribusi BBM di daerah tersebut.
“Kami mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia agar penyaluran BBM ke SPBU dapat dipercepat dan kebutuhan konsumen segera terpenuhi,” tegas Ahad Rahedi. Pemerintah daerah juga didorong untuk membantu mengatur pola distribusi agar keluhan masyarakat dapat berkurang secepatnya.
Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi semua pemangku kepentingan terkait pentingnya menjaga stabilitas pasokan energi, terutama di daerah yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi seperti pertanian dan perdagangan. Pertamina berkomitmen untuk terus memantau situasi dan melakukan langkah-langkah tambahan apabila diperlukan demi memastikan ketersediaan BBM di seluruh SPBU Lumajang kembali normal.













