Berita  

Nilai 8-8,5 Warnai Refleksi 1097 Tahun Pasuruan

Nilai 8-8,5 Warnai Refleksi 1097 Tahun Pasuruan
Nilai 8-8,5 Warnai Refleksi 1097 Tahun Pasuruan

Pasuruan Terkini – JAWARA Komisi 3 DPRD Kabupaten Pasuruan Refleksi Hari Jadi ke 1097 Nilai Pembangunan 8 8 5 menjadi sorotan utama dalam jagongan wakil rakyat yang digelar di Kafe Arkara Taman Dayu, Pandaan. Tiga anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan menilai arah pembangunan dua tahun awal pemerintahan sudah menunjukkan tren positif. Namun, mereka mengingatkan masih ada sederet pekerjaan rumah yang menuntut penyelesaian serius.

Podcast JAWARA (Jagongan Wakil Rakyat) itu menghadirkan Ahmad Aidin Utama, HM Sudiono Fauzan, dan Adib Ghoni Atqon. Diskusi berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, mengangkat tema refleksi pembangunan dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097. Ketiganya sepakat bahwa capaian infrastruktur bukan alasan untuk berpuas diri.

Jalan Beton dan PJU Dinilai Positif

HM Sudiono Fauzan menilai pemerintah daerah cukup serius membenahi kebutuhan dasar masyarakat, terutama infrastruktur jalan dan penerangan jalan umum (PJU). Menurutnya, pembangunan jalan dengan konstruksi beton memang menelan biaya lebih besar dibandingkan aspal. Meski demikian, konstruksi beton dinilai lebih tahan lama sehingga menekan kebutuhan pemeliharaan jangka pendek.

Ia menyebut sejumlah wilayah dengan kondisi tanah labil, rawa, atau bergerak lebih tepat menggunakan konstruksi beton. “Beberapa daerah yang tanahnya labil, yang rawa, yang bergerak memang harus ganti konstruksinya. Jangan aspal, harus beton,” ujarnya dalam diskusi.

Selain jalan, PJU juga mendapat apresiasi. Sudiono menilai jalan mulus kurang memberi manfaat maksimal tanpa penerangan memadai. Apalagi Kabupaten Pasuruan memiliki kawasan industri dengan aktivitas masyarakat yang berlangsung hingga malam hari. PJU dinilai penting untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman warga yang beraktivitas di malam hari.

Konsistensi Pembangunan Jadi Kunci

Adib Ghoni Atqon menilai kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan akan terus berkembang. Dengan keterbatasan anggaran, pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh kebutuhan dalam waktu bersamaan. Karena itu, ia mendorong pembangunan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas dan manfaat jangka panjang.

Ia mencontohkan pembangunan jalan beton yang membutuhkan investasi besar di awal, tetapi bermanfaat lebih panjang dibandingkan pekerjaan tambal sulam. Menurutnya, pembangunan yang sudah berjalan harus dijaga konsistensinya agar manfaatnya dirasakan lebih merata.

Banjir, Kekeringan, dan Sampah Masih Jadi PR

Di balik capaian infrastruktur, Komisi III menilai banjir dan kekeringan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sudiono mengatakan penanganan banjir tidak bisa hanya dilakukan saat musim hujan tiba. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi jangka panjang, termasuk sinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat karena sebagian kewenangan tidak berada di tangan kabupaten.

Persoalan kekeringan juga masih terjadi di sejumlah wilayah. Distribusi air menggunakan tangki menjadi salah satu bentuk penanganan ketika masyarakat kesulitan air. Harapan ke depan, ada solusi lebih permanen sehingga warga di wilayah rawan kekeringan tidak terus bergantung pada distribusi air setiap musim kemarau.

Soal sampah, Ahmad Aidin Utama menilai persoalan ini harus segera ditangani serius karena berdampak pada lingkungan dan berkaitan dengan banjir. Pengelolaan sampah di sejumlah wilayah mulai berjalan, termasuk pengambilan sampah di tingkat RT dan RW. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dinilai mulai tumbuh.

JLU dan Pemerataan Barat-Timur

Kemacetan di kawasan Bangil juga menjadi perhatian. Sudiono menyebut rencana pembangunan Jalur Lingkar Utara (JLU) telah digagas sejak periode sebelumnya. Keberadaan jalur alternatif itu dinilai penting untuk mengurai kepadatan lalu lintas, terutama saat terjadi kecelakaan atau penutupan jalan. Ia berharap rencana JLU terus dikawal dan dikomunikasikan dengan pemerintah pusat.

Komisi III juga menyoroti pemerataan pembangunan antara Pasuruan Barat dan Pasuruan Timur. Sudiono menilai perlu kebijakan khusus untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi wilayah timur, salah satunya melalui gagasan pengembangan kawasan industri baru di Nguling. Pemerataan juga perlu menyentuh pendidikan, sumber daya manusia, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan industri dinilai telah memberi dampak positif. Adib mengatakan manfaat kawasan industri tidak hanya dirasakan pekerja pabrik, tetapi juga sektor pendukung seperti usaha kos. Pemerintah tetap perlu mendorong masyarakat lokal mendapatkan kesempatan kerja melalui job fair dan prioritas bagi warga sekitar.

Nilai 8 hingga 8,5 dan Pesan Penutup

Dalam sesi penilaian, Ahmad Aidin Utama memberi nilai 8,5 dari 10 untuk pembangunan Kabupaten Pasuruan. Sementara HM Sudiono Fauzan dan Adib Ghoni Atqon masing-masing memberi nilai 8 dari 10. Angka itu menunjukkan apresiasi sekaligus pengingat masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan.

Sudiono menekankan kunci pembangunan ke depan adalah konsistensi. “Dua tahun ini sudah on the track. Saya kira terus harus dilanjutkan,” ujarnya. Adib mengajak masyarakat menjaga hasil pembangunan sekaligus meningkatkan pendidikan dan kualitas SDM.

Sudiono mengingatkan usia kabupaten yang panjang bukan berarti pembangunan telah selesai. Masih ada pekerjaan besar agar Pasuruan mampu meningkatkan daya saing dari sisi SDM, ekonomi, maupun pendidikan. JAWARA Komisi 3 DPRD Kabupaten Pasuruan Refleksi Hari Jadi ke 1097 Nilai Pembangunan 8 8 5 memperlihatkan pembangunan dua tahun terakhir mendapat apresiasi, tetapi tetap membutuhkan kesinambungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *