Lobang Buaya: Hanung Bramantyo Bikin Horor 1965

Lobang Buaya: Hanung Bramantyo Bikin Horor 1965
Lobang Buaya: Hanung Bramantyo Bikin Horor 1965

Pasuruan TerkiniHanung Bramantyo angkat tragedi 1965 jadi film horor Lobang Buaya dalam karya terbarunya. Ia memilih pendekatan horor untuk membawa isu sejarah ke penonton muda. Menurut Hanung, horor tidak selalu soal hantu, tetapi juga situasi penuh teror.

Hal itu ia sampaikan dalam Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Acara berlangsung di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026).

Alasan Angkat Sejarah 1965

Hanung Bramantyo angkat tragedi 1965 jadi film horor Lobang Buaya karena film sejarah dinilai belum menarik perhatian penonton muda. Padahal, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda.

Ia melihat film bertema kehidupan anak muda mampu meraih jumlah penonton besar. Sebaliknya, film sejarah cenderung memiliki penonton lebih terbatas. Karena itu, ia ingin memperkenalkan kembali sejarah dengan pendekatan yang dekat dengan selera penonton masa kini.

“Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng.

Konflik masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif.

Literasi Sejarah dan Pendekatan Horor

Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Masyarakat tidak semestinya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan karya dari sudut pandang berbeda.

“Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya.

Pendekatan horor dipilih karena tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan jump scare.

Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman di sekitarnya. Kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu.

“Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya.

Ia juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film itu juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah.

Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis periode sejarah yang penuh ketegangan.

Drama Misteri Investigasi dan Isu Sosial

Meski demikian, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut drama misteri investigasi ketimbang film horor murni.

“Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya.

Selain mengangkat tragedi 1965, film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita.

Istilah itu digunakan untuk menggambarkan kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya.

Isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini.

Ia juga mengatakan film menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk Tanda Tanya dan Perempuan Berkalung Sorban.

“Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia.

Untuk Lobang Buaya, Hanung menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita.

Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *