Jember Abadikan Menara Talangsari Jadi Cagar Budaya

Jember Abadikan Menara Talangsari Jadi Cagar Budaya
Jember Abadikan Menara Talangsari Jadi Cagar Budaya

Pasuruan Terkini – Menara Air Pasar Tanjung Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember resmi menyandang status baru. Bangunan peninggalan era kolonial Belanda di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, itu kini masuk dalam daftar Cagar Budaya Kabupaten Jember. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Jember Nomor 100.3.3.2/403/1.12/2026 yang diteken pada 3 September 2026.

Menara Air Pasar Tanjung Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember menjadi satu dari lima objek bersejarah yang memperoleh status serupa. Bagi Jember, bangunan ini bukan sekadar struktur tua yang masih tegak. Ia menyimpan jejak bagaimana sebuah kota tumbuh dari persoalan air hingga menjadi pusat aktivitas seperti sekarang.

Pembangunan menara dimulai pada 1930 dan rampung setahun berikutnya. Kala itu, kawasan Telengsarie yang kini dikenal sebagai Talangsari menghadapi persoalan ketersediaan air. Wilayah tersebut menjadi salah satu tempat bermukim masyarakat Eropa dan Tionghoa di Jember.

Gagasan mendirikan menara air sebenarnya sudah mengemuka sebelum konstruksi dimulai. Surat kabar De Indische Courant edisi 17 September 1929 memberitakan usulan pembangunan menara air yang disampaikan Van Der Elst, seorang warga Eropa di Jember. Beberapa bulan berselang, Soerabaiasch Handelsblad edisi 7 April 1930 memberitakan persoalan krisis air di wilayah tersebut. Dari persoalan itulah bangunan ini kemudian lahir.

Menara tersebut menjadi bagian dari sistem penyediaan air bagi kawasan yang sedang berkembang. Keberadaannya juga berkelindan dengan Pasar Tanjung yang telah menjadi salah satu pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat Jember. Menara air dan pasar tidak hanya berdekatan secara geografis, tetapi keduanya menjadi bagian dari lanskap kota yang tumbuh pada zamannya.

Waktu berjalan jauh meninggalkan masa ketika menara itu dibangun. Jember berubah. Jalan-jalan berkembang, pusat aktivitas bergeser, dan bangunan baru bermunculan. Namun, Menara Air Pasar Tanjung Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember tetap berada di tempatnya. Usianya yang panjang membuat bangunan itu menyimpan lebih dari sekadar konstruksi fisik.

Ia menyimpan cerita tentang kebutuhan dasar sebuah kota, perkembangan perdagangan, masyarakat yang pernah tinggal di sekitarnya, dan bagaimana Jember mulai membentuk wajah perkotaannya. Karena itu, penetapan sebagai cagar budaya membuat cara pandang terhadap menara tersebut ikut berubah. Ia bukan lagi semata-mata bangunan tua yang kebetulan masih berdiri. Ada nilai sejarah yang melekat dan perlu dilindungi.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, mengatakan penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warisan sejarah Jember tetap dikenali generasi berikutnya.

“Penetapan Menara Air Pasar Tanjung sebagai Cagar Budaya merupakan langkah penting untuk memastikan warisan sejarah ini tetap terlindungi dan dapat dikenali oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” ucapnya, Jumat (25/9/2026).

Kata Regar, masyarakat perlu melihat menara tersebut lebih dari sekadar bangunan lama. “Kita ingin masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai bangunan lama, tetapi memahami cerita, nilai, dan perjalanan sejarah yang melekat di dalamnya,” kata dia.

Ada bangunan yang bertahan karena memang terus digunakan. Ada pula yang bertahan karena memiliki cerita. Menara Air Pasar Tanjung Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember termasuk yang kedua. Bangunan itu telah melewati pergantian zaman, dari masa kolonial hingga Jember menjadi daerah otonom dengan wajah perkotaan seperti sekarang. Kini, status cagar budaya memberi dasar pelindungan yang lebih kuat terhadap keberadaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *