Pasuruan Terkini – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 9 Jember resmi mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di empat stasiun utama. Langkah ini menjadi bagian dari program Hemat Listrik Empat Stasiun KA Daop 9 Jember Gunakan Panel Surya yang menyasar efisiensi energi operasional. Keempat stasiun tersebut adalah Probolinggo, Jember, Ketapang, dan Banyuwangi.
Pemasangan panel surya dilakukan bertahap sesuai kebutuhan daya masing-masing stasiun. Sistem ini terhubung langsung dengan jaringan PLN melalui skema on-grid. Dengan demikian, listrik yang dihasilkan dapat langsung dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pelayanan.
Kapasitas PLTS dan Jadwal Operasional
Stasiun Probolinggo, Jember, dan Ketapang mulai menggunakan PLTS sejak Desember 2023. Masing-masing memiliki kapasitas berbeda, yaitu 6 kWp, 15 kWp, dan 7 kWp.
Sementara itu, Stasiun Banyuwangi baru memasang PLTS pada Maret 2025 dengan kapasitas 11 kWp. Total kapasitas dari keempat stasiun tersebut mencapai 39 kWp.
| Stasiun | Kapasitas PLTS | Mulai Operasi |
|---|---|---|
| Probolinggo | 6 kWp | Desember 2023 |
| Jember | 15 kWp | Desember 2023 |
| Ketapang | 7 kWp | Desember 2023 |
| Banyuwangi | 11 kWp | Maret 2025 |
Panel surya ditempatkan di atap stasiun agar dapat menangkap sinar matahari secara optimal. Energi yang dihasilkan kemudian dialirkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan listrik di area pelayanan penumpang.
Area tersebut meliputi ruang tunggu, loket, area publik, hingga ruang kerja petugas. Pemanfaatan PLTS ini menjadi salah satu wujud konsep Green Station yang diterapkan KAI.
Dampak Penghematan Listrik di Setiap Stasiun
Penggunaan panel surya memberikan dampak nyata terhadap konsumsi listrik harian. Data pemakaian energi mencatat adanya penghematan di masing-masing stasiun.
- Stasiun Probolinggo: hemat 14 persen
- Stasiun Jember: hemat 22 persen
- Stasiun Banyuwangi: hemat 13 persen
- Stasiun Ketapang: hemat 10 persen
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa pemanfaatan PLTS bukan sekadar pemasangan panel. Menurutnya, energi di sekitar harus dimanfaatkan untuk mendukung operasional stasiun secara lebih efisien.
Selain panel surya, efisiensi energi juga didukung penggunaan lampu LED hemat energi. Sistem pengendalian penerangan otomatis berbasis timer turut diterapkan agar konsumsi listrik sesuai kebutuhan dan jam operasional.
“Selain memanfaatkan energi surya, penggunaan lampu LED dan pengaturan sistem penerangan secara otomatis juga menjadi bagian dari upaya mengurangi konsumsi listrik tanpa mengurangi kualitas pelayanan,” tambah Cahyo.
Rencana Pengembangan Teknologi Energi
Ke depan, Daop 9 Jember berencana memperluas pemanfaatan PLTS pada sejumlah bangunan milik KAI. Prioritas diberikan pada fasilitas dengan aktivitas tinggi dan kebutuhan listrik besar pada siang hari.
Pengembangan efisiensi energi juga dilakukan melalui penggunaan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis panel surya. Langkah ini melengkapi upaya Hemat Listrik Empat Stasiun KA Daop 9 Jember Gunakan Panel Surya yang telah berjalan.
KAI Daop 9 Jember juga menyiapkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan Integrated Building Management System (IBMS). Teknologi ini berfungsi memantau sekaligus mengendalikan penggunaan energi secara real time.
Dengan berbagai langkah tersebut, Hemat Listrik Empat Stasiun KA Daop 9 Jember Gunakan Panel Surya diharapkan menjadi model pengelolaan energi yang berkelanjutan. Cahyo menegaskan komitmen KAI menghadirkan stasiun yang semakin efisien dan ramah lingkungan.
“Melalui pemanfaatan energi surya, efisiensi listrik, serta pengembangan teknologi pengelolaan energi, kami ingin terus menghadirkan stasiun yang semakin efisien dan ramah lingkungan sebagai bagian dari kontribusi KAI menuju Indonesia yang lebih hijau,” pungkasnya.











