Pasuruan Terkini – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dari Fraksi PAN, Suli Daim, menyoroti kembali ancaman kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan di Jawa Timur. Ia menilai langkah mitigasi harus diperkuat untuk mencegah kebakaran hutan meluas, terutama di tengah musim kemarau yang meningkatkan kerentanan wilayah. Dorongan Suli Da’im agar mitigasi diperkuat muncul setelah kobaran api kembali terjadi di kawasan hutan Gunung Prongos, Kabupaten Ponorogo.
Peristiwa terbaru itu terjadi di petak 117 F yang mencakup wilayah Desa Koripan dan Desa Bekare, Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare. Petugas gabungan harus berjibaku memadamkan api secara manual karena medan berbatu dan curam menyulitkan mobil tangki menjangkau lokasi.
Suli Daim menegaskan bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh banyak faktor. Kondisi kemarau menjadi salah satu penyebab utama karena berdampak pada kekurangan air sementara temperatur tinggi. Karena itu, ia menilai upaya pencegahan tidak boleh dilakukan secara reaktif.
“Memang kejadian kebakaran hutan dan lahan itu banyak faktor. Pertama karena kondisi kemarau. Dampaknya jelas kekurangan air, sementara temperatur tinggi,” kata Suli Daim pada Selasa 15 September 2026.
Selain faktor cuaca, politikus PAN tersebut menilai perilaku masyarakat menjadi titik rawan yang perlu diantisipasi. Ia mengingatkan warga agar tidak sembarangan membuang puntung rokok, terlebih di kawasan hutan dan lahan yang kondisi vegetasinya mengering.
“Faktor kehati-hatian menjadi penting. Jangan gampang membuang puntung rokok, karena itu juga bisa memicu terjadinya kebakaran,” ujarnya.
“BPBD setempat harus memetakan potensi-potensi yang rawan, terutama kawasan yang banyak ditumbuhi pohon jati. Saat musim seperti ini daunnya mengering dan berguguran sehingga mudah memicu kebakaran,” jelasnya.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas masyarakat di sekitar kawasan hutan. Suli mencontohkan kebiasaan membakar sampah tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan. Api yang awalnya kecil bisa dengan mudah menjalar ketika berhadapan dengan daun kering, suhu tinggi, dan tiupan angin.
Karena itu, edukasi masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci utama pencegahan kebakaran. Menurutnya, jika edukasi dapat dilaksanakan dengan baik, kejadian serupa bisa diminimalisir.
“Sesungguhnya yang terpenting adalah edukasi kepada masyarakat. Kalau itu bisa dilaksanakan, saya kira bisa meminimalisir kejadian yang berulang,” tegasnya.
Suli menambahkan, potensi kebakaran semakin tinggi ketika kemarau berlangsung panjang. Terbatasnya ketersediaan air bahkan telah memunculkan persoalan kekeringan di sejumlah daerah. Dalam kondisi tersebut, api akan lebih mudah membesar apabila disertai angin kencang.
“Panas, kemudian timbul api, lalu semakin membesar karena angin juga kencang. Kondisi seperti itu yang harus kita antisipasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Jawa Timur memiliki sejumlah daerah yang rentan terhadap bencana, baik banjir, tanah longsor, maupun kekeringan. Mitigasi bencana tidak boleh dilakukan dengan pola reaktif. Pemerintah daerah perlu memiliki pemetaan risiko yang jelas sekaligus menyiapkan langkah pencegahan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah mendeklarasikan ada 24 kabupaten/kota yang rentan bencana. Baik banjir, tanah longsor maupun kekeringan,” pungkas Suli Daim.
Ia berharap pemetaan kawasan rawan, edukasi masyarakat, serta kesiapan petugas dapat berjalan beriringan. Dengan begitu, potensi kebakaran hutan selama musim kemarau bisa ditekan sejak sumber persoalannya, bukan hanya mengandalkan penanganan ketika api sudah membesar. Dorongan Suli Da’im agar mitigasi diperkuat menjadi penekanan bahwa pencegahan kebakaran hutan meluas harus dimulai dari langkah antisipatif dan kolaboratif semua pihak.





