Pasuruan Terkini – Desa Bedayu Talang, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang kini tengah menghadapi krisis air bersih yang semakin parah. Kondisi ini memaksa warga Dusun Sebrang untuk mengatur setiap tetes air secara ketat karena sumur-sumur mereka telah mengering selama empat bulan terakhir.
Air Bersih di Lumajang Kian Langka dan dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Warga seperti Sulastri kini harus memprioritaskan air hanya untuk kebutuhan paling mendasar, yaitu memasak dan minum. Aktivitas mencuci pakaian pun terpaksa ditiadakan demi menghemat persediaan air yang sangat terbatas.
Krisis ini mengubah rutinitas sederhana menjadi persoalan yang harus diatur setiap hari. Sulastri menuturkan bahwa ia kini hanya mandi sekali sehari. Air yang tersediapun harus dibagikan dengan hati-hati, termasuk untuk keperluan berwudhu.
Air Bersih di Lumajang Kian Langka membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain bergantung pada distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang. Bantuan terakhir tiba pada Kamis, 8 Oktober 2026. Ketika bantuan belum datang, sebagian warga terpaksa membeli air dari pedagang keliling dengan harga Rp 160 ribu untuk dua jeriken berukuran tidak besar.
Selain kebutuhan rumah tangga, dampak kekeringan juga menyentuh sektor pertanian. Tanaman manggis, pisang, dan durian yang menjadi komoditas penting warga mengalami penurunan hasil panen secara signifikan. Musim buah yang seharusnya ramai kini tidak berbuah akibat sumber air yang telah kering total.
Kedepannya, Sulastri berharap hujan segera turun untuk mengakhiri kesulitan yang dihadapi warga. Ia ingin kemarau panjang ini berlalu agar kehidupan kembali normal.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah konkret untuk mempercepat penanganan krisis. Bupati Lumajang telah mengirim surat resmi kepada Gubernur Jawa Timur untuk meminta bantuan air bersih, mengingat musim hujan diperkirakan masih cukup lama lagi.
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana kekeringan di wilayah Lumajang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek kehidupan sehari-hari, tetapi juga pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat setempat.













