Pasuruan Terkini – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Rasiyo, menyoroti maraknya kenakalan dan perilaku brutal di kalangan remaja. Ia menegaskan bahwa upaya Minimalisir Kenakalan Remaja DPRD Jatim Dorong Sinergi Sekolah dan Orang Tua menjadi langkah krusial. Menurutnya, diperlukan kerja sama yang erat antara pihak sekolah dan keluarga untuk mengawasi anak-anak.
Rasiyo, yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa wali kelas memiliki peran sentral sebagai garda terdepan pendidikan. “Wali kelas adalah wakil orang tua di sekolah. Saya berharap kehadiran anak-anak benar-benar dicek. Jika tidak masuk, wali kelas harus tahu pertama kali,” ujarnya.
Selain itu, peran orang tua di rumah juga sangat penting. Orang tua diminta memberikan perhatian penuh, misalnya dengan peka jika anak pulang terlambat. Dengan komunikasi yang baik antara sekolah dan wali murid, pengawasan terhadap anak dapat maksimal.
Pengawasan ketat semakin diperlukan mengingat derasnya arus informasi dari media sosial. Rasiyo menyoroti konten di platform seperti TikTok yang berpotensi merusak moral anak jika tanpa pendampingan. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan orang tua harus diperkuat.
Menanggapi anggapan bahwa hilangnya mata pelajaran moral Pancasila menyebabkan perilaku brutal, Rasiyo meluruskan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah terintegrasi dalam kurikulum. Ia menilai langkah efektif adalah menambah jam dan kualitas pendidikan agama. “Pendidikan Pancasila sudah ada, yang perlu ditambah adalah pendidikan agama. Di sekolah kami, ada tambahan dua jam pelajaran agama. Ketakwaan kepada Tuhan harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Rasiyo yakin bahwa pembekalan karakter spiritual adalah kunci membentengi generasi muda. “Intinya pendidikan agama harus diperkuat. Insya Allah, karakter dan moral anak-anak akan lebih baik,” tutupnya.
Dengan demikian, upaya Minimalisir Kenakalan Remaja DPRD Jatim Dorong Sinergi Sekolah dan Orang Tua menjadi solusi utama. Kolaborasi yang solid antara sekolah, keluarga, dan penguatan agama diharapkan mampu menekan angka kenakalan remaja di Jawa Timur.





