Bakso Keliling di Lumajang, Bansos PKH Hilang Usai Desil Berubah

Bakso Keliling di Lumajang, Bansos PKH Hilang Usai Desil Berubah
Bakso Keliling di Lumajang, Bansos PKH Hilang Usai Desil Berubah

Pasuruan Terkini – Fenomena Penjual Bakso Keliling di Lumajang Meradang Bansos PKH Lenyap Diduga Akibat Status Desil Naik menjadi sorotan. Purnomo, seorang penjual bakso keliling di Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Lumajang, mengaku kehilangan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) setelah status kesejahteraannya berubah.

Purnomo yang sehari-hari mengandalkan gerobak bakso untuk mencari nafkah mengaku heran dengan perubahan desil yang dialaminya. Sebelumnya, ia berada di desil 3, namun kini naik ke desil 5. Perubahan ini membuatnya tidak lagi menerima bansos baik PKH maupun sembako.

“Saya tidak mengerti, tiba-tiba status desilku jadi lima,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Senin (7/9/2026). Padahal, sebelumnya ia rutin menerima bantuan PKH sebesar Rp600 ribu setiap tiga bulan sekali.

Terakhir kali Purnomo menerima bantuan adalah sebelum bulan Maret 2026. Sejak saat itu, bantuan yang sangat membantu perekonomian keluarganya tidak lagi datang. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya bansos tersebut.

Saat ini, Purnomo hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan bakso keliling di sekitar Mapolres Lumajang. Pendapatannya tidak menentu, rata-rata hanya Rp50 ribu per hari, dan paling tinggi Rp100 ribu. Dengan penghasilan pas-pasan, ia harus menghidupi istri dan dua anak yang masih sekolah.

“Saya belum punya rumah sendiri, masih ngontrak setahun itupun harganya Rp2 juta, bagian belakang masih sesek bambu. Ada dua anak juga yang harus disekolahkan,” keluhnya.

Meski demikian, Purnomo belum mengajukan pemutakhiran data ke Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Kabupaten Lumajang. Ia mengaku tidak tahu harus bagaimana.

Kepala Dinsos P3A Kabupaten Lumajang, Indriono Krishna Murti, mengatakan bahwa perubahan desil warga tidak dapat dipantau langsung melalui aplikasi. Namun, pihaknya telah melakukan pemutakhiran data melalui desa secara berjenjang.

“Dari proses tersebut, pemerintah daerah telah mengusulkan sekitar 1.500 pemutakhiran data,” jelas Indriono. Meski begitu, ia tidak merinci berapa warga yang desilnya berubah.

Kasus Penjual Bakso Keliling di Lumajang Meradang Bansos PKH Lenyap Diduga Akibat Status Desil Naik ini menunjukkan pentingnya akurasi data kesejahteraan. Warga yang berhak menerima bansos seharusnya tetap mendapatkan haknya, sementara yang tidak berhak seharusnya tidak menerima.

Pemerintah diharapkan lebih transparan dalam mengelola data dan memberikan kemudahan bagi warga untuk mengajukan keberatan atau pemutakhiran. Dengan begitu, bantuan sosial dapat tepat sasaran dan tidak ada lagi warga yang merasa dirugikan seperti Purnomo.

Kisah Penjual Bakso Keliling di Lumajang Meradang Bansos PKH Lenyap Diduga Akibat Status Desil Naik menjadi pengingat bahwa perubahan status kesejahteraan bisa berdampak besar bagi masyarakat kecil. Semoga pemerintah segera menindaklanjuti agar keadilan sosial dapat terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *