Ansor Kota Pasuruan: PAN Jangan Hanya Klaim Anak Nahdliyin Saat Butuh Suara

Ansor Kota Pasuruan: PAN Jangan Hanya Klaim Anak Nahdliyin Saat Butuh Suara
Ansor Kota Pasuruan: PAN Jangan Hanya Klaim Anak Nahdliyin Saat Butuh Suara

Pasuruan Terkini – Klaim PAN sebagai partai anak Nahdliyin menuai kritik tajam dari GP Ansor Kota Pasuruan. Mereka menegaskan bahwa identitas Nahdliyin tidak boleh dijadikan alat politik sesaat.

Ketua GP Ansor Kota Pasuruan, Bahrudien Akbar, menyatakan dukungannya terhadap sikap PW GP Ansor Jawa Timur yang mengkritik narasi tersebut. Menurutnya, kedekatan dengan warga NU harus dibuktikan lewat kerja nyata, bukan sekadar label.

“Jangan sampai identitas Nahdliyin hanya dijadikan kendaraan politik. Jika merasa dekat, tunjukkan dengan kerja nyata, bukan slogan,” ujarnya, Senin (07/09/2026).

Bahrudien menegaskan bahwa warga Nahdliyin bukan sekadar angka dalam kalkulasi elektoral. Ada masyarakat, kader, ulama, dan pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam kehidupan sosial.

“Nahdliyin bukan angka dalam kalkulasi elektoral. Ada masyarakat yang harus diperjuangkan, ada kader yang mengabdi, ada pesantren dan ulama yang menjaga kehidupan sosial,” tegasnya.

Kritik ini, menurut Bahrudien, adalah bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat. Ansor tidak memusuhi PAN atau partai tertentu, tetapi ingin memastikan marwah NU tidak ditarik ke politik praktis.

“Kami mendukung sikap Ansor Jawa Timur. Ini bukan soal anti-PAN, melainkan bagaimana identitas Nahdliyin ditempatkan secara proporsional,” katanya.

Ia menambahkan, partai politik seharusnya tidak hanya membangun kedekatan simbolik dengan NU. Keberpihakan terlihat dari kebijakan yang dirasakan masyarakat.

“Kalau ingin disebut dekat dengan Nahdliyin, buktikan melalui kebijakan. Jangan hanya hadir di panggung-panggung NU atau memakai atribut, tetapi tidak ada kebijakan yang dirasakan,” ujarnya.

Bahrudien menilai masyarakat, terutama kalangan muda, semakin kritis terhadap politik identitas. Klaim sebagai anak Nahdliyin tidak otomatis menjadikan partai sebagai representasi warga NU.

“Masyarakat bisa membedakan mana kedekatan karena kepedulian dan mana yang hanya untuk kepentingan elektoral. Jangan sampai NU dicari hanya saat suara dibutuhkan,” tuturnya.

Ia berharap semua partai politik mengedepankan politik gagasan dan program. Persaingan politik seharusnya menawarkan solusi, bukan memperebutkan identitas kelompok.

“Silakan semua partai mendekati masyarakat, tetapi jangan jadikan Nahdliyin sebagai lumbung suara. Buktikan dengan kerja dan keberpihakan nyata,” tandasnya.

GP Ansor Kota Pasuruan tetap terbuka berkomunikasi dengan semua kekuatan politik. Namun, independensi organisasi dan marwah NU harus dijaga.

“Ansor tidak mencari musuh politik, tetapi punya kewajiban menjaga marwah organisasi dan kepentingan Nahdliyin. Jika ada penggunaan identitas yang berlebihan, kami harus bersuara,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *