Mengukur Kesaktian Pancasila di Era Batas Kabur

Portal Berita Pasuruan Terkini
Gambar Thumbnail Default Pasuruan Terkini

Pasuruan Terkini – Mengukur Kesaktian Pancasila menjadi relevan ketika era batas kabur melanda cara berpikir masyarakat. Kebenaran dan kesalahan, fakta dan opini, hingga kritik dan kebencian sulit dibedakan. Pancasila tidak lagi cukup dihafal, tetapi harus diuji kemampuannya menjawab kenyataan yang bergerak cepat.

Gagasan itu disampaikan dalam sebuah tulisan yang membaca Pancasila melalui perspektif Teori Batas Muhammad Syahrur. Perspektif ini menawarkan cara pandang bahwa nilai dasar dapat tetap kokoh sementara penerapannya lentur mengikuti konteks. Analogi tersebut membantu menjelaskan posisi Pancasila sebagai ideologi terbuka.

Dalam memahami Pancasila, publik sering terperangkap pada dua kutub ekstrem. Kutub pertama memperlakukan Pancasila sebagai benda museum yang sudah final, sehingga generasi berikutnya hanya menghafal dan mengulanginya. Kutub kedua membuat Pancasila terlalu cair, di mana setiap zaman bebas menafsirkannya demi kepentingan sesaat.

Kedua kutub itu sama-sama bermasalah. Jika terlalu kaku, Pancasila kehilangan daya jawab terhadap persoalan baru. Jika terlalu cair, Pancasila kehilangan identitas normatifnya. Karena itu, posisi yang tepat adalah menempatkan Pancasila sebagai ideologi terbuka: nilai dasarnya tetap, tetapi penerapannya adaptif.

Muhammad Syahrur melalui Nazariyyah al-Hudud atau Teori Batas membedakan antara dimensi konstan yang tidak boleh dilanggar dan dimensi dinamis tempat manusia berijtihad sesuai konteks. Meski Pancasila bukan hukum Islam, analogi teori ini mencerahkan. Diterapkan pada Pancasila, batasnya tetap, jalannya dapat berubah.

Prinsip persatuan, misalnya, adalah nilai dasar yang konstan. Namun, cara menjaga persatuan pada tahun 1945 tentu berbeda dengan cara menjaganya di era algoritma media sosial, kecerdasan buatan, dan komunikasi digital hari ini. Inilah yang membuat Mengukur Kesaktian Pancasila tidak bisa berhenti pada teks hafalan upacara.

Media sosial membuat setiap orang menjadi produsen informasi. Perbedaan politik mudah berubah menjadi permusuhan sosial. Dalam situasi ini, Pancasila perlu ditransformasikan dari slogan menjadi etika praksis. Lima sila dapat dibaca sebagai pagar moral di ruang digital.

  • Sila Ketuhanan mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat memiliki batas moral.
  • Sila Kemanusiaan menegaskan bahwa di balik layar gawai terdapat manusia bermartabat.
  • Sila Persatuan meredam perpecahan akibat perbedaan identitas digital.
  • Sila Kerakyatan menuntut kebijaksanaan dalam berdemokrasi, bukan sekadar menang suara.
  • Sila Keadilan Sosial mengawal ketimpangan baru akibat ekonomi digital.

Zaman yang serba tidak jelas membuat banyak batas lama runtuh. Konflik, informasi, dan opini menyebar tanpa saringan institusional. Oleh sebab itu, Mengukur Kesaktian Pancasila berarti menguji apakah nilai-nilainya mampu memandu perilaku harian, bukan sekadar dikenang dalam upacara.

Ujian sesungguhnya bukanlah kekuatan magis. Kesaktian Pancasila terletak pada kemampuan nilai-nilainya terus menjadi orientasi hidup bersama. Tugas hari ini bukan mempertanyakan apakah Pancasila masih sakti, melainkan menguji apakah nilai-nilainya mampu memandu kita berhadapan dengan orang yang berbeda pilihan, identitas, dan cara pandang masa depan.

Selama nilai dasar kemanusiaan, persatuan, musyawarah, ketuhanan, dan keadilan tetap dijaga sebagai pagar moral, Pancasila akan selalu relevan menjawab tantangan zaman. Mengukur Kesaktian Pancasila pun berujung pada satu kesimpulan: batasnya tetap, jalannya dapat berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *