Pasuruan Terkini – Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, resmi menjadi desa ketiga yang menerima kunjungan penilaian Lomba Kampung Pancasila Kabupaten Pasuruan pada Kamis (10/9/2026). Penilaian Ngadirejo Desa Ke Tiga Dinilai Lomba Kampung Pancasila Harmoni Lebih Setengah Abad ini menyoroti praktik kerukunan antarumat beragama yang telah berjalan lebih dari setengah abad di wilayah paling timur Kecamatan Tutur tersebut.
Desa yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Tosari ini menyuguhkan kekayaan budaya masyarakat Tengger sekaligus memperlihatkan kehidupan toleransi yang menjadi bagian dari keseharian warga.
Rombongan tim juri dipimpin Kaban Kesbangpol Nurul Huda, Ketua FPK Kabupaten Pasuruan Gus Ahmad Bayhaqi Kadmi, unsur TNI Dovik Sudarmanto, serta unsur Polri Bambang. Kedatangan mereka disambut kesenian Selompret khas Tengger yang dibawakan para siswa SDN 1 Ngadirejo.
Keberagaman sebagai Kekuatan Desa
Kepala Desa Ngadirejo, Mulyono, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas kesempatan mengikuti penilaian Kampung Pancasila. Menurutnya, keberagaman masyarakat justru menjadi kekuatan tersendiri bagi desanya.
Di Desa Ngadirejo hidup masyarakat dengan latar belakang agama berbeda, meliputi Islam, Hindu, dan Kristen. Semuanya disebut mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulyono menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya ditampilkan saat perlombaan berlangsung, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Camat Tutur H. Hendi turut mengapresiasi seluruh elemen masyarakat Desa Ngadirejo yang mampu menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman. Ia bahkan membuka sambutan dengan salam yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat Tengger.
Hendi menilai Desa Ngadirejo sebenarnya tidak membutuhkan perlombaan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila, karena nilai tersebut telah terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga menyoroti budaya Tengger sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Pasuruan yang patut terus dipelihara. Keterlibatan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh warga dinilainya menjadi kunci suksesnya penilaian tersebut.
Pancasila Bukan Sekadar Gapura dan Simbol
Sekretaris Desa Ngadirejo, Willy, dalam paparannya menegaskan bahwa Kampung Pancasila tidak boleh dimaknai sebatas gapura, tulisan, atau simbol yang dipasang di sebuah desa. Menurutnya, esensi Kampung Pancasila adalah ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dan menjadi kultur masyarakat.
Ia mencontohkan penerapan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, melalui kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Willy menyebut di desanya terdapat pura, gereja, dan masyarakat Muslim yang tidak pernah terlibat konflik karena persoalan agama. Ia menegaskan bahwa seluruh warga merasa sebagai saudara.
Kerukunan tersebut juga diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan ketika umat agama lain melaksanakan ibadah atau perayaan hari besar keagamaan. Di Desa Ngadirejo terdapat unsur keamanan dan sosial dari berbagai komunitas keagamaan, seperti pecalang dan Banser.
Ketika umat Muslim melaksanakan Hari Raya, masyarakat dari komunitas lain turut membantu menjaga keamanan. Hal serupa terjadi ketika umat Hindu melaksanakan kegiatan keagamaan maupun saat umat Kristen merayakan Natal.
Video Dua Hari Berbuah Lima Besar
Dalam penilaian Kampung Pancasila tahun ini, Desa Ngadirejo menjadi salah satu dari lima desa yang masuk nominasi dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Tim penilai melakukan penilaian melalui video yang dikirimkan masing-masing desa, sebelum melakukan kunjungan lapangan.
Ketua Karang Taruna Desa Ngadirejo sekaligus sutradara video, Nicolaus Fernando, mengungkapkan bahwa proses pembuatan video Kampung Pancasila hanya dilakukan dalam waktu dua hari. Tim media desa yang bergerak di bidang videografi dan fotografi langsung bergerak setelah mendapat perintah dari Kecamatan Tutur.
Dalam proses produksi, pihaknya melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pecalang, Banser, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas dari gereja dan pura. Fernando mengaku awalnya tidak terlalu berharap Desa Ngadirejo bisa masuk nominasi lima besar karena waktu produksi yang sangat singkat.
Konsep utama video menggambarkan sosok pecalang yang memiliki kepedulian terhadap umat agama lain yang sedang menjalankan ibadah. Pesan intinya adalah bahwa hak setiap orang untuk beribadah tetap harus dijaga, bahkan oleh mereka yang berbeda keyakinan.
Tim Penilai Apresiasi Pesan Kerukunan
Ketua tim penilai, Gus Bayhaqi Kadmi, yang merupakan perwakilan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Pasuruan, menyampaikan bahwa Desa Ngadirejo berhasil masuk lima besar setelah melalui tahapan penilaian video. Tim penilai terdiri dari Nurul Huda selaku ketua tim juri, perwakilan Polres Pasuruan, Kesbangpol, serta unsur FPK.
Ia menegaskan penilaian tidak hanya melihat kualitas teknis video, tetapi terutama bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Nilai terbesar berasal dari penerapan sila-sila Pancasila, sementara editing video dan sisi menarik penampilan dalam film juga menjadi bagian penilaian.
Gus Bayhaqi mengapresiasi video Desa Ngadirejo karena dinilai mampu menyampaikan pesan kerukunan secara sederhana dan menyentuh. Menurutnya, kekuatan video tersebut justru terlihat dari penampilan masyarakat lokal dan pesan yang muncul secara natural, bukan sekadar dibuat untuk kepentingan lomba.
Penilaian lapangan di Desa Ngadirejo kemudian menjadi bukti bahwa pesan yang ditampilkan dalam video memang sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan demikian, Ngadirejo Desa Ke Tiga Dinilai Lomba Kampung Pancasila Harmoni Lebih Setengah Abad ini memperlihatkan bahwa toleransi di desa tersebut bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang telah berlangsung lintas generasi.













