Pasuruan Terkini – Peringatan Hari Parlemen Nasional setiap 16 Oktober kembali menghantarkan pesan sederhana namun krusial bagi lembaga perwakilan Indonesia. NasDem Jember melalui Ketua Fraksi DPRD Jember David Handoko Seto mengingatkan bahwa menjauhkan diri dari aspirasi rakyat adalah cara tercepat memupuskan kepercayaan publik. Momentum tersebut harusnya menjadi pengingat kolektif bahwa legitimasi wakil rakyat bersumber dari kedekatan nyata dengan konstituen.
David menegaskan bahwa tugas parlemen tak sekadar menjalankan trifunksi legislasi, anggaran, dan pengawasan secara mekanistis. Ia menyebut anggota dewan juga wajib hadir secara fisik mendengarkan keluh kesah warga, menampung berbagai aspirasi, serta membantu mencarikan terobosan solusi bersama pemerintah daerah maupun pusat.
Kedekatan dengan masyarakat dinilai David sebagai mandat politik yang tak kalah vital. Aspirasi warga jangan sampai hanya terdengar gemuruh saat masa kampanye pemilu, tetapi kemudian siru begitu sang wakil meraih kursi di dewan. Komunikasi yang terputus pasca-pemilihan sering melahirkan kelelahan sosial dan apati.
Ia mengakui masih banyak masyarakat yang menganggap parlemen jauh dan sulit dijangkau. Pengalaman pribadi warga yang mendapati mantan kandidat hanya datang saat butuh suara, lalu menghilang setelah terpilih, turut memperparah stigma negatif terhadap lembaga legislatif.
Dinamika pemilu yang sarat persaingan politik pun ikut membentuk persepsi publik. Karena itu, David mendesak seluruh anggota legislatif di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat untuk membenahi pola komunikasi dan menancapkan keberpihakan tegas kepada kepentingan umum.
Sejarah mencatat Hari Parlemen Nasional lahir dari Maklumat Wakil Presiden Nomor X tanggal 16 Oktober 1945. Kebijakan itu memberikan kewenangan legislatif kepada Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang semula hanya membantu presiden, sehingga memperkuat posisi representasi rakyat dalam tata kelola pemerintahan.
Knip kemudian menjalankan fungsi mirip lembaga perwakilan sebelum sistem parlemen modern terbentuk. Peristiwa itu menjadi tonggak demokrasi Indonesia yang patut diresapi para generasi penerus bangsa.
Dalam konteks kekinian, peringatan ini sejatinya menyorot tiga mandat pokok legislatif: menyusun peraturan perundang-undangan, membahas dan menetapkan anggaran bersama eksekutif, serta mengawasi jalannya kebijakan publik. Namun mandat itu harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab kemanusiaan dan keberpihakan sosial.
David mengaitkan semangat itu dengan misi restorasi Indonesia yang diusung Partai NasDem, yakni mengembalikan nilai-nilai luhur, adat istiadat, dan semangat kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus tercermin dalam perilaku setiap wakil rakyat, khususnya melalui kepedulian nyata terhadap persoalan sosial.
Di momentum Hari Parlemen Nasional ini, menurut David, segala hal perlu diperbaiki dan direstorasi agar lembaga perwakilan kembali dipercaya. Ia berharap peringatan ini menjadi titik awal penguatan tanggung jawab kepada konstituen, sehingga parlemen tak hanya hadir sebagai mesin pembuat kebijakan, tetapi juga ruang terbuka bagi rakyat menemukan jalan keluar atas persoalan sehari-hari.













