Home Care Jember: Tak Semua Pasien Dikunjungi Harian

Portal Berita Pasuruan Terkini
Gambar Thumbnail Default Pasuruan Terkini

Pasuruan Terkini – Dukung Program Home Care DPRD Jember Jelaskan Mekanisme Layanan pada Pasien menjadi sorotan publik Jember. Anggota Komisi D DPRD Jember, Ahmad Dhafir Syah, menegaskan pasien home care tidak otomatis dikunjungi tenaga kesehatan setiap hari. Frekuensi kunjungan ditentukan setelah pemeriksaan dan asesmen awal.

Komisi D DPRD Jember mengapresiasi konsep tersebut sebagai pelayanan kesehatan jemput bola. Komisi D bermitra dengan Dinas Kesehatan, Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) serta tiga rumah sakit umum daerah (RSUD). Meski begitu, Dhafir menilai masih ada pemahaman yang perlu diluruskan soal mekanisme layanan, terutama anggapan bahwa seluruh pasien harus didatangi setiap hari.

Dukung Program Home Care DPRD Jember Jelaskan Mekanisme Layanan pada Pasien menegaskan alur layanan yang bertingkat. Setelah pemeriksaan awal, tenaga kesehatan menentukan kebutuhan layanan berdasarkan kondisi pasien. Jika pasien butuh perawatan lebih lanjut, ia dapat dirujuk untuk rawat inap di puskesmas atau salah satu dari tiga RSUD sesuai domisili. Pasien yang masih memungkinkan rawat jalan akan menerima obat untuk kebutuhan dua hingga tiga hari.

“Jadi tidak harus setiap hari didatangi. Kalau sudah membaik tapi belum 100 persen, akan ada telemedicine dan obat diantar sampai rumah, tidak perlu ambil ke Puskesmas,” ujar Dhafir.

Apabila kondisi pasien membaik setelah pengobatan, kunjungan dapat dihentikan. Sebaliknya, jika kondisinya belum membaik, tenaga kesehatan dapat kembali berkunjung dengan mengacu pada rekam medis pasien. Dhafir juga menegaskan konsep pelayanan 24 jam tidak berarti tenaga kesehatan terus mendatangi rumah pasien selama 24 jam. Pelayanan 24 jam berkaitan dengan penanganan pasien ketika berada di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pelaksanaan program ini melibatkan tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Dhafir menyebut sekitar 1.200 tenaga kesehatan dari 50 puskesmas dikerahkan untuk mendukung program tersebut. Kunjungan ke rumah pasien juga dapat membuka persoalan lain di luar kebutuhan medis. Saat tenaga kesehatan menemukan persoalan sosial maupun kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan pasien, temuan itu dapat menjadi masukan bagi organisasi perangkat daerah terkait.

Misalnya, apabila ditemukan kebutuhan jambanisasi atau perbaikan rumah, persoalan tersebut dapat diteruskan kepada perangkat daerah yang memiliki kewenangan. Pola serupa, kata Dhafir, juga dapat diterapkan terhadap persoalan kesehatan yang ditemukan melalui kanal pengaduan Wadul Gus’e. “Ini program yang betul-betul menyasar masyarakat yang kesulitan akses kesehatan,” katanya.

Dhafir memiliki pengalaman bekerja di bidang kesehatan. Dia pernah bekerja selama lima tahun di Puskesmas Banyuwangi, lima tahun di RS Daerah Kalisat, serta empat tahun sebagai tenaga kesehatan di luar negeri.

Salah satu pelaksanaan home care dilakukan Dinkes PPKB Jember bersama Puskesmas Curahnongko dengan mendatangi Sami, 72 tahun, warga Desa Curahnongko yang tinggal seorang diri. Sami mendapatkan pemeriksaan setelah mengeluhkan kondisi tulang belakang yang melengkung serta kaki yang kerap terasa ngilu. Rumah Sami berada di sekitar kawasan hutan. Kondisi tersebut membuat layanan kesehatan langsung ke rumah menjadi salah satu cara untuk mendekatkan akses pelayanan kepadanya.

Kedatangan tenaga kesehatan mendapat sambutan dari Sami. Dia mengapresiasi pelayanan yang diberikan pemerintah dan menyampaikan terima kasih atas kunjungan tersebut.

Melalui Dukung Program Home Care DPRD Jember Jelaskan Mekanisme Layanan pada Pasien, masyarakat diharapkan memahami bahwa layanan ini berbasis asesmen, bukan kunjungan harian otomatis. Dengan begitu, program dapat berjalan tepat sasaran bagi warga yang benar-benar kesulitan akses kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *