ISPA Meledak 36,2 Persen, PDI Perjuangan DPRD Jatim Desak

ISPA Meledak 36,2 Persen, PDI Perjuangan DPRD Jatim Desak
ISPA Meledak 36,2 Persen, PDI Perjuangan DPRD Jatim Desak

Pasuruan Terkini – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jawa Timur tercatat melonjak tajam hingga 36,2 persen sepanjang 2026. FRaksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Bereaksi Kasus ISPA Melonjak 36 2 Persen menjadi sorotan publik menyusul data Dinas Kesehatan yang menunjukkan 212.914 kasus pada Agustus 2026.

Angka itu melonjak signifikan dibanding rata-rata bulanan tahun 2025 yang hanya sebesar 111.393 kasus. Wakil Ketua DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan, Deni Wicaksono, menilai lonjakan ini harus menggugah pemerintah untuk bertindak preventif, bukan sekadar reaktif.

Deni menegaskan bahwa penanganan ISPA tidak boleh hanya mengandalkan rumah sakit dan pengobatan. Pencegahan, khususnya pengendalian pencemaran udara, pengawasan sumber emisi, serta perlindungan kelompok rentan, harus menjadi prioritas utama.

Data Kasus ISPA di Lima Daerah Terparah

Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat rata-rata kasus ISPA sepanjang 2026 mencapai 151.750 kasus per bulan. Puncaknya terjadi pada Agustus dengan 212.914 kasus, tertinggi sejak Januari hingga September. Lima wilayah dengan laporan kasus tertinggi adalah Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Lamongan, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.

WilayahStatus
Kota SurabayaKasus Tertinggi
Kabupaten SidoarjoKasus Tinggi
LamonganKasus Tinggi
Kota MalangKasus Tinggi
Kabupaten MalangKasus Tinggi

Kondisi Cuaca Memperparah Polusi Udara

Peningkatan kasus ISPA terjadi di tengah musim kemarau yang kering. BMKG memprediksi 56 dari 74 Zona Musim mengalami curah hujan di bawah normal atau sekitar 75,7 persen. Puncak kemarau diperkirakan dominan terjadi pada Agustus.

Minimnya hujan dinilai mengurangi kemampuan atmosfer dalam membersihkan polutan, sehingga paparan debu di lingkungan meningkat. Aktivitas kendaraan bermotor, industri, konstruksi, hingga pembakaran terbuka juga turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.

Deni menekankan pentingnya pemantauan partikel halus PM2.5 dan PM10 yang secara langsung memengaruhi saluran pernapasan. Ia mendorong Pemprov Jatim memperluas pemantauan kualitas udara di kawasan padat kendaraan, industri, dan permukiman seperti Surabaya Raya dan Malang Raya.

Kesiapan Rumah Sakit di Jawa Timur

Di sisi lain, tekanan pada fasilitas kesehatan juga semakin terasa. RSUD dr Darsono di Kabupaten Pacitan mencatat BOR mencapai 88 persen pada Oktober 2026 dari total kapasitas 196 tempat tidur atau setara 172 tempat terisi. Kondisi ini jauh di atas kisaran normal 55–60 persen.

Kenaikan kunjungan mulai terpantau sejak pekan kedua Agustus dan berlanjut hingga September–Oktober. Direktur RSUD dr Darsono, dr Johan Tri Putranto, menyatakan bahwa layanan masih berjalan normal dan kapasitas yang tersedia mampu mengakomodasi pasien.

Deni mengingatkan agar pemerintah memantau kapasitas pelayanan kesehatan secara berkala. Ia juga mendorong Dinas Kesehatan Jatim memperkuat surveilans penyakit pernapasan dan memonitor tren kunjungan pasien di daerah dengan laporan ISPA tertinggi.

Peringatan Dini dan Koordinasi Lintas Sektor

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim juga mendorong penguatan sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data kualitas udara, cuaca, titik panas, dan perkembangan kasus ISPA. Sistem ini diharapkan bisa memberikan pesan kepada masyarakat, sekolah, fasilitas kesehatan, serta kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Evaluasi kualitas udara dan surveilans kesehatan perlu diprioritaskan di lima daerah dengan laporan ISPA tertinggi. Deni menegaskan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat tak bisa dipisahkan dari kebijakan lingkungan. Pengendalian emisi, penanganan debu, pengawasan aktivitas industri, dan kesiapsiagaan rumah sakit harus menjadi langkah terpadu yang dijalankan Pemprov Jatim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *