Khofifah Pimpin Pembaretan 1.334 Taruna Jatim, Disiplin Tanpa Kekerasan

Khofifah Pimpin Pembaretan 1.334 Taruna Jatim, Disiplin Tanpa Kekerasan
Khofifah Pimpin Pembaretan 1.334 Taruna Jatim, Disiplin Tanpa Kekerasan

Pasuruan Terkini – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung prosesi pembaretan 1.334 taruna dan taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur. Kegiatan berlangsung di Pusdik Brimob Watukosek, Kabupaten Pasuruan, Kamis (8/10/2026). Dalam momen itu, Gubernur Khofifah Pimpin Pembaretan 1 334 Taruna Jatim Tekankan Disiplin Tanpa Kekerasan sebagai pesan utama kepada seluruh peserta.

Prosesi tersebut menandai berakhirnya masa basis ketarunaan yang dijalani para siswa selama kurang lebih tiga bulan. Sebanyak 1.334 taruna dan taruni resmi menyandang baret setelah dinyatakan lulus tahapan pembentukan karakter. Khofifah bertindak sebagai inspektur upacara, didampingi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI.

Adapun peserta berasal dari enam sekolah. Rinciannya, 201 taruna-taruni SMAN Taruna Nala Jawa Timur, 270 SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur, 245 SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur, 270 SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, 135 SMAN Taruna Madani Jawa Timur, serta 213 SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur.

Rangkaian pembaretan ditandai dengan penyiraman air bunga, penyematan baret, dan pemberian lencana bela negara oleh Khofifah. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa pembaretan bukan sekadar seremoni atau pergantian atribut semata. Baret menjadi simbol keberhasilan melewati proses pembentukan karakter sekaligus penanda dimulainya tanggung jawab yang lebih besar.

“Pembaretan hari ini bukan sekadar seremoni. Baret yang kalian kenakan adalah simbol proses, perjuangan, disiplin sekaligus tanggung jawab,” tegas Khofifah.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan ketarunaan tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan rutinitas maupun ketahanan fisik. Proses tersebut harus mampu mengubah cara berpikir dan cara bersikap. Para taruna diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, tangguh, bertanggung jawab, religius, serta memiliki jiwa kepemimpinan.

Khofifah secara khusus meminta agar pendidikan ketarunaan di Jawa Timur tetap berjalan dalam ekosistem pendidikan yang humanis. Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi kekerasan, perundungan atau bullying, maupun praktik senioritas yang merendahkan martabat peserta didik.

“Kedisiplinan tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama,” katanya.

Ia juga berpesan kepada para taruna yang nantinya menjadi senior agar tidak menggunakan posisi tersebut sebagai alasan melakukan kekerasan terhadap junior. Menurutnya, semakin tinggi tingkat senioritas, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi, dan membimbing adik kelas.

“Jangan pernah merasa bahwa menjadi senior memberikan hak untuk melakukan kekerasan kepada junior. Justru semakin senior, semakin besar tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi dan membimbing,” pesannya.

Selain karakter dan kedisiplinan, Khofifah menilai pendidikan ketarunaan harus mampu menjawab perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mengambil keputusan.

Karena itu, para taruna tidak cukup hanya memiliki kekuatan fisik dan kedisiplinan. Mereka juga harus mampu berpikir kritis, adaptif, menguasai teknologi, serta memiliki integritas dan kompas moral yang kuat.

“Teknologi boleh berkembang semakin cepat, tetapi integritas tidak boleh tertinggal. Pengetahuan boleh semakin tinggi, tetapi karakter harus tetap menjadi fondasi,” tutur Khofifah.

Ia menambahkan, nilai keimanan dan ketakwaan, nasionalisme, integritas, serta kepedulian terhadap sesama semakin penting di tengah derasnya perubahan tersebut. Terlebih, para taruna saat ini diproyeksikan menjadi bagian dari generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan ketika Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045.

“Kalian adalah generasi yang kelak menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Karena itu, persiapkan diri bukan hanya untuk menjadi orang yang sukses, tetapi menjadi pemimpin yang memiliki integritas, kompetensi, kepedulian dan kecintaan kepada bangsa dan negara,” ujarnya.

Khofifah menegaskan, keberadaan enam SMAN Taruna Jawa Timur tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak siswa berprestasi secara akademik. Sekolah taruna juga diharapkan menjadi ekosistem pembentukan calon pemimpin masa depan dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan spiritualitas.

Ia mengapresiasi kolaborasi dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Kodam V/Brawijaya, Polda Jawa Timur, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Pasuruan. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, bela negara, dan spiritualitas.

“Jawa Timur ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi unggul yang cerdas sekaligus berkarakter. Mereka harus mampu berdiri tegak menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri, nilai kebangsaan dan kompas moralnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah memberikan kepercayaan dan mendampingi putra-putrinya menjalani pendidikan ketarunaan. Pembaretan disebutnya sebagai momentum penting bagi keluarga setelah para taruna dan taruni menjalani masa basis dengan berbagai proses pembentukan karakter.

“Hari ini Bapak dan Ibu melihat putra-putrinya mengenakan baret. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kelak kita melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, menghormati sesama, membanggakan keluarga serta siap mengabdi kepada bangsa dan negara,” tuturnya.

Pada akhir kegiatan, Khofifah menyerahkan piagam penghargaan kepada 12 taruna dan taruni atas capaian selama masa basis. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drum corps dan defile taruna-taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur.

Khofifah berpesan agar baret yang telah dikenakan tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga pengingat atas tanggung jawab yang harus dijaga. Ia mendorong para taruna menjaga kehormatan baret melalui prestasi, integritas, dan keteladanan, serta terus melangkah dengan keyakinan untuk mengambil peran terbaik menyongsong Indonesia Emas 2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *