Pasuruan Terkini – Keluarga almarhum Pauzi masih kecewa keluarga pasien meninggal laporkan RSUD Waluyo Jati Kraksaan ke DPRD dan Polisi. Langkah itu ditempuh setelah dugaan lambatnya penanganan medis yang berujung pada kematian korban. Permohonan Rapat Dengar Pendapat (RDP) resmi diajukan ke DPRD Kabupaten Probolinggo.
Sabri (46), perwakilan keluarga sekaligus sepupu almarhum, menegaskan bahwa upaya ini bukan demi kepentingan pribadi. Ia menyebut persoalan tersebut menyangkut hajat orang banyak. “Kami sudah mengajukan surat ke DPRD Kabupaten Probolinggo untuk Rapat Dengar Pendapat terkait pelayanan RSUD Waluyo Jati,” kata Sabri, Jumat (18/9/26).
Selain mendorong forum legislatif, keluarga tetap membuka opsi hukum. Sabri mengaku masih berkonsultasi dengan pengacara untuk menentukan langkah selanjutnya. Ia menilai evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan publik perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Direksi RSUD Waluyo Jati Minta Maaf
Pada hari yang sama, Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan, dr. Yessi Rahmawati, mendatangi rumah duka almarhum Pauzi di Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Kunjungan itu untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus mengklarifikasi kendala komunikasi yang terjadi. Yessi juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Pauzi dan Zainullah.
“Kami menyadari atas kekurangan kami, mungkin dari cara komunikasi atau pelayanan. Sekali lagi kami mohon maaf, kalau ada pelayanan dari teman-teman yang kurang baik, tetapi insya Allah kami akan berbenah,” ucap Yessi. Ia menambahkan bahwa cara berkomunikasi yang tidak tepat membuat pelayanan tidak sesuai harapan keluarga.
Kedatangan rombongan manajemen rumah sakit disambut baik oleh keluarga. Samak, orang tua almarhum Pauzi, mengapresiasi iktikad baik manajemen dan menyatakan telah menerima musibah tersebut. Samak juga meminta maaf kepada pihak RSUD Waluyo Jati atas unggahan video viral Sabri di TikTok yang sempat menyoroti pelayanan rumah sakit.
“Iya, kami juga minta maaf atas kejadian kemarin. Kami sudah tidak mau membahas kejadian itu lagi,” ucap Samak. Ia mengaku ikhlas dan menyadari apa yang telah terjadi. “Keluarga sudah menyadari. Kami sudah ikhlas. Mau gak mau ya harus mau. Terima gak terima ya harus terima,” tambahnya. Sabri pun menyampaikan terima kasih atas kunjungan silaturahmi tersebut.
Awal Mula Kronologi Penanganan Medis
Kasus ini bermula saat Pauzi dirujuk ke RSUD Waluyo Jati Kraksaan pada Selasa (8/9/2026) malam akibat kecelakaan lalu lintas di jalur Pantura, Jalan Raya Panglima Sudirman, Asembakor, Kraksaan. Hasil pemeriksaan awal dan CT scan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menunjukkan almarhum mengalami gegar otak ringan tanpa pendarahan di otak.
Namun, keluarga mengeluhkan kepastian tindakan dokter spesialis yang dinilai lambat hingga memakan waktu lebih dari 30 jam. Selain itu, penjahitan luka berat pada tubuh korban sempat ditunda dengan alasan akan disatukan bersama tindakan operasi patah tulang. Almarhum Pauzi baru menjalani tindakan operasi pada Kamis (10/9/2026) malam setelah dipindahkan ke Ruang Cempaka, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Keluhan terkait penanganan medis ini sebelumnya sempat diunggah oleh Sabri di platform TikTok hingga menjadi viral dan menyita perhatian publik. Hingga kini, keluarga almarhum Pauzi masih kecewa keluarga pasien meninggal laporkan RSUD Waluyo Jati Kraksaan ke DPRD dan Polisi demi perbaikan layanan ke depan.
- Selasa (8/9/2026): Pauzi dirujuk ke IGD RSUD Waluyo Jati Kraksaan akibat kecelakaan lalu lintas.
- Hasil CT scan: gegar otak ringan tanpa pendarahan di otak.
- Kamis (10/9/2026): operasi dilakukan setelah dipindahkan ke Ruang Cempaka.
- Setelah operasi: almarhum dinyatakan meninggal dunia.
Permohonan RDP ke DPRD Kabupaten Probolinggo dan konsultasi hukum menjadi dua jalur yang ditempuh keluarga. Langkah tersebut diharapkan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas.













