Pasuruan Terkini – Dentuman Gunung Semeru Kembali Menggelegar, Intens Terjadi Selama 3 Bulan Terakhir. Suara dentuman keras kembali terdengar dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut pada Senin malam, 28 September 2026. Peristiwa ini terekam jelas oleh kamera CCTV milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang yang berlokasi di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menyatakan bahwa dentuman tersebut terdengar sekitar pukul 21.01 WIB. Dalam rekaman CCTV, suara dentuman terjadi bersamaan dengan letusan dan kepulan kolom asap yang membumbung tinggi di atas Kawah Jonggring Saloko. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada dampak signifikan dari peristiwa tersebut.
Koordinator Pos Pantau Curah Kobokan, Sugiono, mengungkapkan bahwa dentuman dari Gunung Semeru cukup intens terjadi dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Menurutnya, dentuman biasanya terdengar setelah fase letusan Semeru mengalami jeda yang cukup lama. Fenomena ini menjadi perhatian tersendiri bagi warga sekitar.
Suara dentuman dari dalam gunung terjadi akibat pelepasan tekanan energi atau gas secara mendadak di dalam sistem vulkanik saat aktivitas erupsi berlangsung. Sugiono menambahkan bahwa kondisi tersebut merupakan aktivitas yang dapat terjadi pada gunung api aktif. Hal ini menunjukkan bahwa Gunung Semeru masih dalam kondisi dinamis dan perlu terus dipantau.
Hingga kini, Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap aktivitas vulkanik gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut. Meski dentuman pada Senin malam tidak menimbulkan dampak, potensi erupsi sewaktu-waktu tetap perlu diantisipasi oleh semua pihak.
Dalam rekomendasi keselamatan, masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Dentuman Gunung Semeru Kembali Menggelegar, Intens Terjadi Selama 3 Bulan Terakhir menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. BPBD Lumajang terus memantau perkembangan situasi melalui pos pantau dan kamera CCTV yang tersebar di beberapa titik. Warga diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak mudah terpancing oleh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan status Siaga yang masih melekat, segala bentuk aktivitas di kawasan rawan bencana harus benar-benar memperhatikan rekomendasi keselamatan. Potensi bahaya sekunder seperti awan panas guguran dan lahar hujan tetap menjadi ancaman utama bagi siapa saja yang berada di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru. Koordinasi antara BPBD, pos pantau, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.
Fenomena dentuman yang terekam CCTV ini juga menjadi bahan kajian bagi para pengamat vulkanologi. Mereka menilai bahwa pelepasan tekanan gas di dalam sistem vulkanik merupakan hal yang wajar terjadi pada gunung api aktif. Namun demikian, fluktuasi aktivitas Gunung Semeru tetap harus dipantau secara berkelanjutan agar tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material.
Masyarakat di Kabupaten Lumajang dan sekitarnya diharapkan tetap tenang namun waspada. Selalu perbarui informasi terkini mengenai aktivitas Gunung Semeru melalui kanal resmi pemerintah daerah dan badan geologi. Dengan begitu, langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat dan cepat apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.







