Pasuruan Terkini – Kartu Pers Ditabur Lilin Dinyalakan Wartawan Mojokerto Berdoa untuk Rekan yang Hilang. Puluhan jurnalis berkumpul di Alun-alun Kota Mojokerto, Senin pagi, untuk mendoakan kelima rekan wartawannya yang ikut ekspedisi Anak Krakatau bersama tiga kru. Mereka yang tak ditemukan hingga kini meninggalkan kekhawatiran mendalam di komunitas pers setempat.
Lima wartawan dan tiga anggota kru ekspedisi Anak Krakatau dinyatakan hilang setelah komunikasi terputus. Kabar tersebut memicu solidaritas cepat dari Media Center Ruang Jurnalis Mojokerto (MC RJM) dan Aliansi Wartawan Mojokerto Raya.
Acara do’a bersama berlangsung khidmat dengan sejumlah simbol duka. Para peserta menaburkan bunga, menyalakan lilin, dan meletakkan kartu pers mereka di tanah sebagai tanda rasa hormat serta keprihatinan. Kartu Pers Ditabur Lilin Dinyalakan Wartawan Mojokerto Berdoa untuk Rekan yang Hilang menjadi wujud nyata kepedulian sesama insan pers.
Selain anggota MC RJM, acara juga dihadiri perwakilan perusahaan PT SPS, Hotel Aston Mojokerto, serta para pimpinan perangkat daerah Kabupaten Mojokerto.
Koordinator MC RJM, M. Syafiuddin, menegaskan bahwa kegiatan ini murni inisiatif para jurnalis untuk mendoakan rekan-rekan mereka. “Ini murni kegiatan teman-teman untuk mendoakan teman jurnalistik yang belum ditemukan. Keprihatinan kita bersama karena teman kita terkena musibah,” ujarnya.
Syafiuddin berharap kelima wartawan dan tiga kru tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Ia menambahkan, kabar hilangnya kontak mungkin hanya disebabkan gangguan sinyal. “Kita berdoa yang terbaik untuk lima rekan kita beserta ABK. Semoga hanya hilang sinyal saja dan mereka segera ditemukan dalam kondisi selamat,” katanya.
Lebih jauh, Syafiuddin mengingatkan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga bagi seluruh insan pers. Tugas jurnalistik menuntut keberanian mencari informasi, namun keselamatan nyawa harus menjadi prioritas utama. “Ini menjadi peringatan bagi kita bahwa tidak ada berita yang seharga dengan nyawa,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya menghitung risiko sebelum terjun ke lokasi berbahaya. “Memang ada informasi penting yang harus disampaikan kepada masyarakat. Tetapi kita juga harus menghitung bagaimana keselamatan kita. Kalau tidak, kita yang justru akan dikabarkan,” ujarnya.
Doa bersama itu ditutup dengan harapan agar masih ada kabar baik. “Semoga masih ada cahaya bagi teman-teman kita. Semoga mereka hanya tertutup kabut dan bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” pungkas Syafiuddin.





