Pasuruan Terkini – Dimeriahkan Reog Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Bikin Gemblidik Race Lumbang Makin masyhur di tengah masyarakat. Grand Final Gelombang Gemblidik Race 2026 yang digelar di Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Sabtu 13 September 2026, memukau pengunjung dengan kolaborasi unik antara olahraga tradisional dan kesenian Reog.
Kompetisi yang diselenggarakan Karang Taruna Lumbang Bersatu ini diikuti oleh 45 peserta dari seluruh warga Lumbang. Dari jumlah tersebut, hanya enam orang yang lolos ke babak final. Acara berlangsung meriah sejak pukul 13.00 WIB dan berhasil menarik perhatian luas.
Gemblidik merupakan olahraga tradisional berupa balapan menggunakan papan kayu gelindingan yang sudah dilaksanakan selama empat tahun berturut-turut. Kegiatan ini sempat terhenti selama masa pandemi Covid-19, namun kembali bergeliat seiring membaiknya kondisi masyarakat sekitar. Bagi warga Lumbang, Gemblidik memiliki nilai tinggi karena masih mempertahankan konsep dan perlengkapan asli tradisional secara murni.
Pertama kali kolaborasi dengan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini bermula dari beranda TikTok pada tahun 2024. Saat itu, Zaini melihat kegiatan Gemblidik Race dan langsung memberikan dukungan meski belum bisa hadir di acara grand final saat itu.
Setahun kemudian, pengurus Karang Taruna melakukan audiensi langsung ke kantor Zaini. Dukungan pun makin berkembang. Pada pelaksanaan grand final tahun 2025, Zaini hadir memberikan dukungan penuh, termasuk bantuan kebutuhan media publikasi agar kegiatan semakin dikenal masyarakat.
Dimas, Ketua Karang Taruna Lumbang yang juga merupakan mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang jurusan PGSD, mengungkapkan bahwa dukungan dari kalangan legislatif sangat dibutuhkan agar Gemblidik Race semakin booming dan dikenal lebih luas.
“Alhamdulillah tercapai. Di Pasuruan banyak yang tahu. Teman kuliah banyak yang tahu. Event ini viral,” ujar Dimas.
“Beliau peduli dengan pemuda, tidak lelah membimbing. Usulan tidak hanya Gemblidik, tetapi juga ada kesenian,” jelas Dimas.
Gemblidik yang lahir dari masyarakat Lumbang diharapkan dapat berkembang menjadi agenda kegiatan daerah. Dimas berharap Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Pasuruan atau Dispora dapat ikut menggandeng dan membina kegiatan tersebut secara resmi.
“Harapannya event ini bisa menjadi agenda kegiatan daerah. Kami ingin digandeng Dispora untuk dibina, karena konsep olahraga ini asli Lumbang,” pungkasnya.
Gemblidik bukan satu-satunya daya tarik di acara tersebut. Grand Final Gemblidik Race 2026 juga dimeriahkan dengan pertunjukan Reog, kesenian tradisional yang telah eksis di Lumbang selama kurang lebih 19 tahun. Padepokan Reog Lumbang memiliki sekitar 35 anggota yang siap meramaikan kegiatan setiap kali diundang.
Tinjau, seorang penggiat Reog setempat, menyatakan bahwa kelompoknya selalu siap membantu meramaikan acara-acara tradisional di wilayahnya. Kolaborasi antara olahraga Gemblidik dan kesenian Reog ini menjadi gambaran bagaimana kegiatan kepemudaan di Desa Lumbang tidak hanya diarahkan pada kompetisi olahraga semata, tetapi juga sebagai ruang pelestarian kebudayaan lokal.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Lumbang. Kepala Desa Sukarsih menyampaikan bahwa pemdes memberikan support penuh terhadap kegiatan yang digelar masyarakat, terutama yang melibatkan generasi muda.
“Support dari Pemdes. Pesertanya 45, memang khusus untuk warga Lumbang,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi sarana bagi pemuda untuk mengembangkan kebudayaan desa, bukan hanya dalam ranah olahraga semata.
Sukarsih, warga asli Lumbang yang telah menjalani satu periode sebagai kepala desa, menilai potensi budaya lokal perlu terus diberi ruang agar tidak terlupakan di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.
“Saya ingin pemuda bisa meningkatkan kebudayaan di Desa Lumbang. Bukan hanya olahraga,” katanya.
Mengembangkan kegiatan tradisional memang bukan perkara mudah. Namun, Dimas yakin bahwa potensi Gemblidik sangat besar apabila dikelola secara bersama-sama antara pemerintah daerah, legislatif, swasta, dan masyarakat. Kolaborasi inilah yang dinilai krusial agar olahraga tradisional warisan leluhur tersebut tetap terjaga keberadaannya.
“Mohon lebih banyak kolaborasi, antara Pemda dan swasta. Potensinya luar biasa. Memang berat, tapi akan menjaga,” tandasnya.











