Pasuruan Terkini – Fenomena SOUND HOREG Ketika Hiburan Ekonomi dan Hak Warga Bertabrakan menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Sound horeg tidak lagi sekadar pengeras suara, tetapi telah menjadi bagian dari budaya hiburan, ruang ekspresi anak muda, dan peluang ekonomi bagi pedagang serta UMKM. Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana menyeimbangkan hiburan, keuntungan ekonomi, dan hak warga atas ketenangan?
Artikel ini mengulas konflik kepentingan yang muncul dari sound horeg, dengan perspektif hukum Islam dan maqashid syariah. Tujuannya bukan untuk menghakimi, melainkan mencari solusi yang adil bagi semua pihak.
Dampak Positif Sound Horeg bagi Masyarakat
Tidak dapat dipungkiri, sound horeg membawa berkah ekonomi. Saat parade digelar, pedagang makanan, minuman, dan suvenir kebanjiran pembeli. Anak muda mendapatkan wadah untuk berekspresi, dan masyarakat menikmati hiburan gratis. Kegiatan ini juga memperkuat gotong royong dan interaksi sosial.
Namun, di sisi lain, suara yang terlalu keras dapat mengganggu tidur, menimbulkan stres, dan merusak pendengaran. Bayi, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan. Bahkan, tak jarang keluarga harus mengungsi demi mencari ketenangan.
Perdebatan yang Terlalu Sederhana
Perdebatan tentang sound horeg seringkali terjebak pada dua kubu: yang mendukung karena alasan budaya dan ekonomi, serta yang menolak karena alasan gangguan. Padahal, persoalan ini lebih kompleks. Kita perlu bertanya: siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan?
Jika pedagang mendapatkan keuntungan tetapi warga kehilangan waktu tidur, maka perlu ada kompromi. Hiburan tidak boleh menabrak hak orang lain atas kenyamanan dan kesehatan.
Perspektif Maqashid Syariah
Dalam Islam, penilaian suatu aktivitas tidak cukup hanya dari halal atau haramnya. Lebih dari itu, kita perlu melihat dampaknya terhadap jiwa, akal, harta, dan keturunan. Konsep maqashid syariah menekankan perlunya menjaga kemaslahatan dan mencegah kemudaratan.
Jika sound horeg menyebabkan gangguan psikologis, kerusakan properti, atau menjadi sarana kemaksiatan, maka aspek tersebut harus dicegah. Namun, jika dapat diatur dengan baik, maka sound horeg tetap bisa berjalan tanpa merugikan pihak lain.
Regulasi Bukanlah Musuh Budaya
Regulasi terhadap sound horeg bukan berarti mematikan budaya. Justru sebaliknya, regulasi diperlukan agar budaya dapat berkembang secara bertanggung jawab. Aturan tentang batas volume, waktu pelaksanaan, dan lokasi dapat menjadi solusi.
Sayangnya, meskipun sudah ada aturan, masih banyak pelanggaran. Misalnya, kegiatan yang berlangsung hingga dini hari dengan volume melebihi batas. Hal ini menunjukkan perlunya penegakan hukum dan kesadaran bersama.
Menuju Hiburan yang Berkemaslahatan
Alih-alih mempertentangkan generasi muda dan tua, kita perlu bermusyawarah untuk mencari format kegiatan yang mengakomodasi semua pihak. UMKM tetap bisa tumbuh, anak muda tetap bisa berekspresi, namun warga tetap merasa nyaman.
Pada akhirnya, SOUND HOREG Ketika Hiburan Ekonomi dan Hak Warga Bertabrakan mengajarkan kita bahwa hiburan yang baik bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling luas manfaatnya dan paling sedikit mudaratnya. Dengan pendekatan yang seimbang, kita bisa menikmati hiburan tanpa mengorbankan hak orang lain.











