Pasuruan Terkini – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo memperkuat sinergi lintas sektor untuk menindaklanjuti berbagai kendala dalam penerapan inovasi pembelajaran. Fokus utamanya adalah program Multigrade dan Multilayanan di Kecamatan Sukapura. Langkah Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Perkuat Sinergi Atasi Kendala Pembelajaran Multigrade ini menjadi hasil refleksi eksternal ecosystem district Program INOVASI, kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia.
Refleksi tersebut berlangsung di ruang pertemuan Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Sukapura pada Selasa, 6 Oktober 2026. Evaluasi mencakup periode Oktober 2025 hingga Oktober 2026. Selain Multigrade dan Multilayanan, pembahasan juga meliputi program PAUD-SD Satu Atap (Satap) serta Parenting.
Kegiatan ini melibatkan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), dan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Sukapura. Turut hadir Tim Penggerak PKK Kecamatan Sukapura serta Tim INOVASI. Workshop dihadiri Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah, District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono, Ecosystem Coordinator INOVASI Jawa Timur Ahmad Fathoni, dan MERL Officer INOVASI Triyana Damayanti.
Amik Mutammimah menyatakan forum refleksi diperlukan untuk memetakan persoalan yang masih muncul sekaligus menentukan kontribusi masing-masing pihak. Salah satu perhatian utama adalah capaian akademik, terutama literasi dan numerasi. Berdasarkan evaluasi, masih terdapat persoalan terkait capaian literasi dan numerasi pada tahun pembelajaran 2025-2026.
“Bagaimana literasi dan numerasi ini bisa terangkat tanpa meninggalkan pembentukan karakter, tapi literasi dan numerasi ini tetap bisa kita naikkan,” katanya. Menurut Amik, tantangan juga muncul dari kapasitas guru dalam menerapkan pembelajaran kelas rangkap. Sebagian pendidik masih memandang inovasi tersebut sebagai tambahan beban karena belum sepenuhnya memahami penyusunan integrasi capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran hingga lembar kerja siswa dalam pembelajaran terdiferensiasi.
“Kondisi ini semakin membutuhkan perhatian karena bahan ajar yang tersedia masih lebih banyak dirancang untuk pembelajaran kelas reguler. Referensi khusus yang mendukung pembelajaran multigrade maupun multijenjang masih terbatas,” jelasnya. Selain guru, pemahaman kepala sekolah dan pengawas mengenai konsep pembelajaran kelas rangkap juga dinilai perlu terus diperkuat. Mutasi dan purna tugas sumber daya manusia turut memengaruhi efektivitas kepemimpinan di sekolah.
“Kemudian bagaimana di sisi kurangnya kapasitas guru, bagaimana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan hadir untuk memberikan kontribusi. Ini nanti juga akan menjadi laporan kami kepada pimpinan terkait kendala-kendala dan kira-kira apa yang bisa kami lakukan dari dinas,” terangnya.
Amik menerangkan persoalan yang dibahas tidak hanya menyangkut proses pembelajaran. Aspek kesehatan, gizi dan keterlibatan orang tua juga menjadi bagian dari refleksi. “Edukasi mengenai kesehatan dan makanan bergizi bagi anak masih perlu diperkuat. Pendampingan orang tua di rumah juga menjadi perhatian karena keterbatasan waktu dan interaksi, termasuk dalam mengatur penggunaan gawai pada anak,” tegasnya.
Dari sisi kelembagaan, pengembangan PAUD-SD Satu Atap juga masih memiliki pekerjaan yang perlu diselesaikan. SK PAUD-SD Satu Atap telah terbit, tetapi proses penerbitan NPSN masih berjalan karena membutuhkan penyelesaian dokumen terkait kepala sekolah definitif serta pendidik atau guru. SK kepala sekolah dan pendidik atau guru menjadi syarat untuk turunnya NPSN dan saat ini masih berproses.
“Persoalan nomenklatur juga masih dikoordinasikan dengan Bagian Organisasi Kabupaten Probolinggo. Penyelesaian dasar regulasi tersebut diharapkan dapat mendukung proses penerbitan SK kepala sekolah dan guru pada sekolah PAUD-SD Satu Atap,” tambahnya. Amik menegaskan, berbagai persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan bersama dan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Kita harus selalu berkomunikasi aktif untuk berintegrasi, bersinergi, tidak hanya koordinasi tapi konsolidasi dan sinergi yang utuh sehingga itu akan menjadi satu kekuatan,” urainya. Ia berharap refleksi tersebut tidak berhenti sebagai evaluasi, tetapi dilanjutkan dengan langkah konkret sesuai peran masing-masing pihak.
“Ini butuh komitmen bersama, tidak hanya berhenti di komitmen pastinya, tapi juga konkret kerja nyata di masing-masing ekosistem memberikan kontribusi yang terbaik untuk penyelesaian pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.
Sementara District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono menjelaskan refleksi tersebut tidak sekadar digunakan untuk melihat capaian program, tetapi juga memetakan tantangan, pembelajaran dan kebutuhan penguatan pada periode berikutnya. “Selama satu tahun terakhir, program INOVASI mencakup Multigrade Multilayanan, PAUD-SD Satu Atap dan Parenting. Beberapa capaian yang telah dicatat antara lain kesepakatan sekolah pilot PAUD-SD kelas rangkap satu atap di SDN Sariwani 2 dan SDN Sapikerep 3 Kecamatan Sukapura serta pengembangan sekolah kelas rangkap multilayanan,” ujarnya.
Anwar menilai penguatan pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak unsur. Kepala sekolah, guru, pengawas, orang tua, layanan kesehatan, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya memiliki peran yang saling berkaitan. “Kalau kita ingin pendidikan di daerah maju, maka Hari Belajar Guru harus berjalan baik dan berkelanjutan. Kepala sekolah harus hadir sebagai penggerak, guru sebagai pembelajar, sekolah menjadi ruang untuk terus bertumbuh, pengawas sebagai pendamping dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai penguat ekosistemnya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan MERL Officer INOVASI Triyana Damayanti. Menurutnya, keberlanjutan Hari Belajar Guru penting agar peningkatan kapasitas pendidik tidak berhenti pada kegiatan sesaat. “Hasil observasi pembelajaran Satap PAUD-SD pada baseline juga menunjukkan sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat, mulai dari lingkungan dan keamanan sekolah, kemampuan fondasi anak, pelaksanaan pembelajaran hingga perencanaan pembelajaran,” ungkapnya.
Triyana menyebut kemampuan fondasi anak mulai berkembang pada aspek interaksi sosial, emosional, bahasa dan komunikasi, literasi-numerasi awal, motorik serta kemandirian. Namun, penguatan masih diperlukan pada regulasi emosi, perhatian, literasi-numerasi dan kemandirian. “Dalam proses pembelajaran, anak telah diberi kesempatan memilih aktivitas dan menunjukkan antusiasme. Namun, integrasi literasi dan numerasi serta kedalaman refleksi pembelajaran masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Lebih lanjut Triyana menekankan pentingnya ekosistem pendidikan yang mampu menjangkau seluruh anak, termasuk anak penyandang disabilitas, anak dengan bahasa ibu berbeda, anak di daerah terpencil, anak dari keluarga kurang mampu maupun anak dengan kebutuhan belajar yang tidak selalu terlihat. “Refleksi terhadap pelaksanaan program menjadi bagian penting untuk melihat capaian, pengalaman aktual, pembelajaran yang diperoleh serta kebutuhan perbaikan. Aspek kesetaraan gender, disabilitas, inklusi sosial dan perubahan iklim juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam penguatan ekosistem pendidikan,” pungkasnya.













