Pasuruan Terkini – Seniman Indonesia Malaysia and Singapura Mengangkat Warisan Budaya Bersama ke Panggung Yogyakarta melalui dua pertunjukan kolaboratif yang akan digelar pada Oktober 2025. Pertunjukan ini merupakan puncak dari inisiatif regional Embracing Shared Heritage through Performing Arts yang dilaksanakan UNESCO bersama Temasek Foundation. Dua karya baru tersebut lahir dari pertukaran gagasan selama empat bulan antara seniman ketiga negara.
Pertunjukan pertama, Hutan, akan dipentaskan dalam Pesta Boneka pada 6–7 Oktober di Kampung Media. Sementara itu, Rumah dari Lidah, yang mengangkat warisan Peranakan, akan tampil dalam Bedog Arts Festival pada 9–10 Oktober di Studio Banjarmili. Keduanya menjadi bukti nyata bagaimana Seniman Indonesia Malaysia and Singapura Mengangkat Warisan Budaya Bersama ke Panggung Yogyakarta dengan pendekatan yang unik.
Moe Chiba, Head of Culture UNESCO Regional Office in Jakarta, menyatakan bahwa karya seni kerap melintasi batas negara dengan cara tak terduga. Namun, para seniman sendiri belum tentu memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan berkarya bersama. “Melalui inisiatif ini, kami ingin memberi ruang bagi para seniman untuk bertemu, bertukar gagasan, dan menciptakan karya baru dari warisan budaya yang menghubungkan mereka,” ujarnya.
James Chan, Head of Programmes Office and Resilient Societies Temasek Foundation, menambahkan bahwa masyarakat Asia Tenggara terhubung dalam banyak hal, namun masing-masing memiliki tradisi, cerita, dan cara pandang sendiri. “Seni membuka ruang bagi orang-orang untuk berkumpul, mengenal pengalaman yang berbeda, dan menemukan titik temu. Melalui kemitraan ini, Temasek Foundation berharap pertukaran seperti ini dapat mempererat hubungan antarbudaya dan mendorong harmoni di tengah keberagaman kawasan kita,” kata James Chan.
Kedua pertunjukan mengangkat warisan bersama dari sudut pandang berbeda. Hutan mengeksplorasi hubungan masyarakat dengan hutan sebagai ruang alam sekaligus budaya, melalui cerita, ingatan, kepercayaan, serta hubungan antara manusia dan alam. Pertunjukan ini juga menggunakan pendekatan inklusif agar mudah diakses beragam penonton, termasuk penonton neurodivergen.
Sementara itu, Rumah dari Lidah mengangkat warisan budaya Peranakan dan keterkaitannya dengan Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pertunjukan ini menelusuri sejarah Peranakan yang terbentuk melalui migrasi dan pertukaran budaya dari generasi ke generasi. Melati Suryodarmo, sutradara Rumah dari Lidah, mengungkapkan keinginannya untuk tidak menggambarkan budaya Peranakan hanya melalui satu cerita. “Saya ingin membuka ruang bagi beragam pengalaman pribadi — potongan sejarah, bahasa, makanan, dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi atau terlupakan,” ujarnya.
Sejak dimulai pada 2025, Embracing Shared Heritage through Performing Arts telah mempertemukan seniman, peneliti, mahasiswa, dan pelaku budaya dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura melalui lokakarya, diskusi, dan pertukaran seni. Dua pertunjukan ini menampilkan hasil kolaborasi tersebut kepada publik dalam Pesta Boneka dan Bedog Arts Festival di Yogyakarta. Inisiatif ini menegaskan kembali peran Seniman Indonesia Malaysia and Singapura Mengangkat Warisan Budaya Bersama ke Panggung Yogyakarta sebagai jembatan budaya lintas negara.
Dengan demikian, panggung Yogyakarta menjadi saksi bagaimana Seniman Indonesia Malaysia and Singapura Mengangkat Warisan Budaya Bersama ke Panggung Yogyakarta, memperkuat ikatan sejarah dan budaya di Asia Tenggara. Kolaborasi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang warisan bersama yang melampaui batas negara.













