Film Pertahanan Demokrasi di Midang Mata Umum

Film Pertahanan Demokrasi di Midang Mata Umum
Film Pertahanan Demokrasi di Midang Mata Umum

Pasuruan Terkini – PASURUAN — Gelagat penyempitan ruang demokrasi di Indonesia memicu keresahan luas di kalangan mahasiswa dan aktivis sipil. Agenda Nobar Makin Ditekan Makin Melawan Jadi Pemantik Rawat Ingatan dan Perlawanan digelar pada Minggu malam, 4 Oktober 2026, sebagai respons terhadap ancaman represi yang semakin masif. Kegiatan nonton bareng serta diskusi film dokumenter ini bertujuan merapatkan kembali barisan gerakan pro-demokrasi yang dinilai mulai renggang setelah gelombang unjuk rasa Agustus 2025 silam.

Forum ini diinisiasi oleh sejumlah elemen masyarakat sipil dan mahasiswa yang mengkhawatirkan kondisi kebebasan berpendapat saat ini. Sutradara sekaligus sineas asal Pasuruan, Faiz Benshadeq, hadir memaparkan proses lahirnya karya dokumenter tersebut. Ia mengungkapkan bahwa film ini lahir dari kegelisahan kolektif yang dirasakan luas di kalangan pekerja seni dan aktivis.

Film dokumenter Makin Ditekan Makin Melawan diproduksi oleh Koreksi.org dengan kolaborasi KontraS. Dukungan juga diperoleh dari Trend Asia dan Kurawal. Faiz Benshadeq menekankan bahwa karya ini bukan sekadar rekaman peristiwa, melainkan alat pemantik kesadaran untuk terus mengawal demokrasi.

Sutradara tersebut menyajikan data mencengangkan tentang realitas represif yang terjadi di tanah air. Menurutnya, aparat kepolisian pernah menangkap hampir 7.000 orang dalam satu periode aksi, sebuah catatan penangkapan terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Dari total 6.719 orang yang ditangkap, sebanyak 703 di antaranya harus melalui proses pengadilan dan dikenakan berbagai pasal pidana.

Penyampaian data kelam ini menjadi momen penting dalam rangkaian acara. Para peserta yang hadir terdiri dari perwakilan PMII, HMI, IMM, KP-Alternatif, Wahana Baca, dan Aliansi BEM Pasuruan Raya. Diskusi yang berlangsung kemudian meluas ke persoalan lokal yang tak kalah urgente.

Tragedi Beji menjadi sorotan utama dalam forum tersebut. Kasus tewasnya warga sipil bernama WD diduga akibat kekerasan oknum anggota Polsek Beji dibahas secara mendalam. Lintas Elemen Pasuruan yang hadir menyatakan bahwa peristiwa ini membuktikan bahwa impunitas dan kekerasan institusional bukan sekadar fiksi di layar, melainkan ancaman nyata yang merenggut nyawa warga Pasuruan.

Mereka menilai lambatnya proses hukum serta pergantian kepemimpinan di Polres Pasuruan sebagai pertanda bahaya. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengarah pada normalisasi kasus dan pengaburan fakta. Para peserta sepakat mengutuk segala bentuk penyusutan ruang sipil serta praktik kekerasan oleh aparat penegak hukum.

Melalui kacamata keberpihakan pada kaum tertindas dan supremasi hukum, forum ini menyoroti bagaimana instrumen negara kerap disalahgunakan. Alat-alat negara disebut dimanfaatkan untuk mematikan nalar kritis publik sekaligus melindungi oknum pelanggar hukum di tubuh aparat itu sendiri.

Komitmen bersama pun dituangkan dalam dokumen kesepakatan. Gabungan elemen mahasiswa di Pasuruan menyepakati untuk terus merapatkan barisan, mengawal isu kebebasan sipil baik di tingkat daerah maupun nasional, dan menolak segala bentuk pembungkaman penguasa di masa mendatang. Nobar Makin Ditekan Makin Melawan Jadi Pemantik Rawat Ingatan dan Perlawanan terbukti berhasil menyatukan berbagai elemen dalam satu tujuan bersama.

Faiz Benshadeq berharap karya dokumenternya dapat menjadi pemicu gelombang perubahan yang lebih besar. Ia menyeru agar masyarakat tidak kehilangan semangat bersuara dan terus mendorong terbebasnya para tahanan politik yang masih mendekam di penjara. Pesan utamanya adalah membangun harapan radikal tentang negara demokratis yang bebas intimidasi sesuai amanat konstitusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *