Pasuruan Terkini – Pertandingan final Pasuruan Super League Bupati Cup 2026 antara Kejayan FC dan Kraton FC berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 bagi Kejayan FC. Namun, euforia Kejayan FC Juara Final Berakhir Ricuh Ayik Suhaya Soroti Wasit dan Masa Depan Pemain Muda justru mencuat setelah pertandingan usai.
Laga yang digelar di lapangan sepakbola Plumbon Pandaan tersebut disaksikan sekitar 1.000 penonton. Atmosfer pertandingan berlangsung meriah berkat dukungan suporter kedua kesebelasan yang menampilkan koreografi atraktif.
Sejak awal, kedua tim memperlihatkan permainan terbuka dengan jual beli serangan. Kejayan FC akhirnya keluar sebagai juara dengan skor 1-0 atas Kraton FC.
Pertandingan final ini turut dihadiri Wakil Bupati Pasuruan, Gus Shobih Asrori, beserta jajaran Forkompinda, OPD, camat, dan para kepala desa se-Kecamatan Kraton dan Kejayan, serta sejumlah undangan lainnya.
Namun, pesta sepak bola yang seharusnya menjadi panggung bagi para pemain U-21 itu harus ternoda oleh kejadian tidak diinginkan. Usai pertandingan, terjadi kericuhan atau tawuran antarpihak yang membuat suasana final menjadi memanas.
Kejadian tersebut menjadi catatan serius karena pertandingan sebenarnya telah menyuguhkan tontonan sepak bola yang menarik dan kompetitif. Wagub LIRA Jatim sekaligus pencinta sepak bola, Ayik Suhaya, S.H., menyayangkan berakhirnya pertandingan dengan kericuhan.
Ia menilai hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi Koni dan PSSI Kabupaten Pasuruan juga penyelenggara agar persoalan serupa tidak kembali terjadi dalam pertandingan berikutnya.
“Pertandingan ini sebenarnya sangat menarik. Anak-anak U-21 bermain bagus dan menunjukkan semangat kompetisi. Sangat disayangkan akhirnya harus ternoda dengan kejadian tawuran,” ujar Ayik pada 29 September 2026.
Ayik juga mengingatkan agar penyelenggaraan kompetisi sepak bola usia muda tidak boleh kehilangan semangat sportivitas dan fair play. Ia berharap Bupati Cup ke depan benar-benar menjadi wadah pembinaan pemain muda, bukan justru menjadi ruang bagi kepentingan-kepentingan tertentu yang dapat merusak perkembangan mereka.
“Jangan sampai ada mafia-mafia bola yang justru merugikan pemain-pemain muda. Mereka punya potensi, mereka bermain menarik dan fair play. Jangan sampai generasi muda kita dirusak oleh kepentingan seperti itu,” tegasnya.
Kejayan FC akhirnya membawa pulang gelar juara dengan skor 1-0. Namun, pekerjaan rumah penyelenggara bukan hanya memastikan siapa yang mengangkat trofi, melainkan bagaimana kompetisi sepak bola muda benar-benar menjadi ruang pembinaan yang sehat, aman, dan menjunjung tinggi fair play.
Isu Kejayan FC Juara Final Berakhir Ricuh Ayik Suhaya Soroti Wasit dan Masa Depan Pemain Muda ini menjadi sorotan penting bagi pengelolaan kompetisi usia muda ke depan. Evaluasi terhadap kinerja wasit dan penjaminan keamanan pertandingan harus segera dilakukan.
Dengan demikian, Kejayan FC Juara Final Berakhir Ricuh Ayik Suhaya Soroti Wasit dan Masa Depan Pemain Muda menjadi pengingat bahwa pembinaan pemain muda tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan sesaat. Sepak bola usia dini harus tetap menjadi ruang tumbuh yang positif.



