Pasuruan Terkini – Juara Pasuruan Street Art Fashion Carnival 2026 Diwarnai Polemik Hadiah Peserta Randusari Hanya Terima Rp250 Ribu menjadi sorotan publik Kota Pasuruan. Kelurahan Randusari berhasil menyabet gelar juara utama pada ajang yang digelar Selasa malam, 1 September 2026. Namun, di balik kemenangan itu, muncul keluhan mengenai pembagian uang pembinaan yang dinilai tidak transparan.
Kompetisi busana dan seni pertunjukan tersebut berlangsung di kawasan Gedung Harmonie hingga Jalan Pahlawan. Randusari menyisihkan 34 kelurahan se-Kota Pasuruan dalam ajang puncak Gebyar Kemerdekaan HUT ke-81 RI. Atas keunggulannya, kontingen Randusari berhak memboyong piala serta hadiah uang tunai senilai Rp5 juta.
Namun, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa peraga fashion yang berjuang di lapangan hanya menerima Rp250 ribu per orang. Total uang yang diserahkan kepada dua orang peraga disinyalir hanya Rp500 ribu. Sementara sisa hadiah sekitar Rp4,5 juta dialokasikan untuk keperluan makan-makan bersama.
Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan peraga. Nominal yang diterima dinilai tidak sebanding dengan pengorbanan, tenaga, serta intensitas latihan yang dijalani hingga berhasil menyabet gelar juara utama. Polemik hadiah Juara Pasuruan Street Art Fashion Carnival 2026 Diwarnai Polemik Hadiah Peserta Randusari Hanya Terima Rp250 Ribu pun semakin meluas di tengah masyarakat.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Lurah Randusari melalui pesan tertulis WhatsApp guna mengklarifikasi alokasi dan transparansi penggunaan dana hadiah. Namun, hingga berita ini diturunkan pada Senin, 28 September 2026, pihak kelurahan belum memberikan respons maupun tanggapan resmi.
Pertanyaan publik pun mengemuka: bagaimana seharusnya uang pembinaan dikelola agar adil bagi semua pihak yang terlibat? Sebab, peraga merupakan ujung tombak yang tampil di depan juri dan penonton. Tanpa dedikasi mereka, gelar juara tidak akan mungkin diraih.
Kasus Juara Pasuruan Street Art Fashion Carnival 2026 Diwarnai Polemik Hadiah Peserta Randusari Hanya Terima Rp250 Ribu ini menjadi cermin pentingnya tata kelola hadiah yang transparan. Kejelasan alokasi dana tidak hanya menjaga keadilan, tetapi juga mempertahankan semangat kebersamaan. Jika dibiarkan, polemik serupa berpotensi terulang pada event berikutnya.
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak kelurahan. Publik berharap persoalan ini segera menemukan titik terang. Dengan begitu, prestasi Randusari tetap dikenang sebagai kemenangan, bukan sebagai perkara pembagian hadiah yang berkepanjangan.



